Risk-On Kembali, S&P 500 Dekati Rekor Meski Hormuz Memanas Wall Street opened the holiday-shortened week with stocks and bonds rising on Tuesday (May 26), as hopes for a US-Iran peace deal outweighed reports of military
Wall Street membuka pekan yang dipersingkat libur dengan saham dan obligasi menguat pada hari Selasa (26/5), saat harapan kesepakatan damai AS–Iran lebih dominan dibanding kabar bentrokan militer di sekitar Selat Hormuz. Ekspektasi perjanjian sementara mendorong sentimen risk-on terbatas, sementara kekhawatiran inflasi berbasis energi mereda dan menekan kembali taruhan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Indeks ekuitas utama bergerak naik pada awal sesi New York. S&P 500 naik 0,6% pada sekitar pukul 09:30 waktu New York dan mengarah ke rekor baru, Nasdaq 100 menguat 1,2%, sementara Dow Jones naik 0,3%. Reli dipimpin saham-saham berorientasi pertumbuhan, sejalan dengan turunnya tekanan di pasar obligasi.
Treasury menguat di sepanjang kurva, mencerminkan penurunan premi inflasi jangka pendek dan penyesuaian ekspektasi kebijakan. Ketika pasar menilai peluang de-eskalasi meningkat, kanal transmisi utamanya adalah harga energi: minyak yang lebih rendah atau lebih stabil mengurangi risiko inflasi lanjutan, sehingga menahan dorongan untuk pengetatan tambahan.
Namun, narasi de-eskalasi belum linier. AS dan Iran dilaporkan kembali terlibat bentrokan di dekat Hormuz, menegaskan ketegangan operasional tetap ada meski kedua pihak menyampaikan progres menuju kesepakatan. Presiden Donald Trump kembali mengatakan negosiasi untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali selat terus berjalan, sementara Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memperingatkan bahwa negara-negara kawasan “tidak lagi menjadi perisai” bagi pangkalan AS.
Harga minyak tetap menjadi variabel penggerak utama risiko pasar. Brent bergerak volatil dan kembali naik ke sekitar US$99 setelah turun lebih dari 7% pada Senin. Selama akses Hormuz masih dipersepsikan rapuh, harga energi berpotensi tetap whipsaw, dengan implikasi langsung ke ekspektasi inflasi, yield, dan rotasi risiko.
Fokus pasar berikutnya adalah perkembangan konkret negosiasi AS–Iran (timeline dan implementasi di Hormuz), arah harga minyak setelah volatilitas awal pekan, serta apakah repricing ekspektasi The Fed bertahan jika tekanan inflasi energi kembali berubah. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id