Saham Eropa Turun, Krisis Inggris dan Iran Dorong Risk-Off
Saham Eropa ditutup melemah pada Selasa (12/5), terseret meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah prospek penyelesaian cepat perang AS–Iran dinilai makin jauh, sementara krisis politik di Inggris menambah tekanan sentimen. Indeks pan-Eropa Stoxx 600 turun hampir 1,1% pada akhir sesi, dengan mayoritas sektor dan bursa utama berada di zona merah.
Di Inggris, investor memantau eskalasi tekanan terhadap Perdana Menteri Keir Starmer setelah menteri-menteri pemerintah bergabung dengan lebih dari 70 anggota parlemen Partai Buruh yang menyerukan Starmer mundur atau menetapkan jadwal kepergian, menyusul hasil buruk pemilu lokal pekan lalu. Starmer menegaskan tidak akan mundur dan menyebut mekanisme tantangan kepemimpinan partai belum dipicu, meski ia mengakui adanya “keraguan” dan sejumlah staf menteri mengundurkan diri.
Tekanan politik tersebut tercermin di pasar obligasi dan valas Inggris. Imbal hasil gilt 10 tahun naik sekitar 10 bps menjadi 5,10%, sementara pound sterling turun 0,7% terhadap dolar AS dan melemah 0,3% terhadap euro.
Dari sisi geopolitik, optimisme damai AS–Iran kembali terpukul setelah Trump mengatakan gencatan senjata yang sedang berjalan berada “on life support” dan menyebut kondisinya “unbelievably weak” setelah Iran mengirim respons balasan yang ia nilai “tidak dapat diterima” atas proposal Washington untuk mengakhiri perang. Kombinasi risiko geopolitik dan ketidakpastian politik domestik Inggris memperkuat bias defensif investor dan menekan aset berisiko di Eropa.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada perkembangan tekanan politik terhadap Starmer dan dampaknya pada gilt serta pound, bersamaan dengan arah gencatan senjata dan sinyal diplomasi AS–Iran yang akan menentukan apakah ketidakpastian geopolitik tetap menjadi sumber premi risiko di aset global. (arl)
Sumber: Newsmaker.id