Dolar Tersandung CPI Dingin
Indeks Dolar AS melemah pada perdagangan Selasa (14/7) setelah data inflasi Amerika Serikat keluar lebih rendah dari perkiraan. DXY turun sekitar 0,4% ke level 100,90, karena pasar menilai tekanan inflasi mulai mereda dan peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat ikut menurun.
Data CPI AS menunjukkan inflasi utama turun 0,4% secara bulanan pada Juni dan melambat ke 3,5% secara tahunan. Sementara itu, core CPI tidak berubah secara bulanan dan turun ke 2,6% secara tahunan. Angka ini memberi sinyal bahwa tekanan harga mulai lebih terkendali.
Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menyebut laporan inflasi kali ini cukup mengejutkan karena terlihat jinak, terutama dari komponen jasa. Namun, ia mengingatkan pasar agar tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan hanya dari satu data, karena The Fed masih membutuhkan beberapa laporan serupa untuk lebih yakin bahwa inflasi benar-benar turun.
Pelemahan dolar mendorong penguatan mata uang utama lainnya. EUR/USD naik menuju 1,1420, GBP/USD menguat ke sekitar 1,3390, sementara AUD/USD melonjak ke area 0,6970 karena terbantu pelemahan dolar dan kenaikan harga komoditas. USD/JPY turun ke sekitar 162,20, meski yen masih berada dekat level terlemah multi-dekade.
Di pasar komoditas, WTI naik sekitar 2,1% ke dekat US$79,60 per barel akibat kekhawatiran geopolitik setelah Presiden Donald Trump mengumumkan blokade baru terhadap kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran. Sementara itu, emas ikut menguat sekitar 1,3% ke area US$4.053, didukung dolar yang melemah, data inflasi yang lebih dingin, dan ketidakpastian pasokan energi global.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada data Producer Price Index atau PPI AS, Empire State Manufacturing Index, hari kedua testimoni Ketua The Fed Kevin Warsh, serta Beige Book The Fed. Jika data lanjutan tetap menunjukkan inflasi mereda, dolar bisa tetap tertekan. Namun, jika harga minyak terus naik, kekhawatiran inflasi energi masih bisa kembali membatasi pelemahan dolar.(yds)
Sumber: Newsmaker.id