Dolar Loyo Tipis: Isu Greenland Reda, Pasar Balik Pantau Data
Dolar AS bergerak melemah tipis pada Kamis (22/1) jelang rilis data ekonomi penting, setelah tensi Greenland mereda dan narasi “Sell America” mulai kehilangan tenaga. Pasar sebelumnya sempat panik ketika Presiden Donald Trump mengancam tarif ke sekutu Eropa terkait ambisi Greenland, tetapi situasinya mendingin setelah Trump membatalkan ancaman tarif dan menegaskan tidak akan merebut Greenland dengan kekuatan militer.
Komentar Trump itu sempat membantu dolar pulih terhadap euro pada Rabu, setelah greenback turun hampir 1% dalam dua sesi awal pekan. Namun memasuki Kamis, pelaku pasar kembali mengunci fokus ke data—dan dolar cenderung bergerak hati-hati karena sentimen risiko sudah tidak sepanas kemarin.
Di Asia-Pasifik, dolar Australia (Aussie) justru mencuri panggung. Aussie melonjak ke level tertinggi 15 bulan setelah data tenaga kerja mengejutkan pasar: pengangguran turun di luar dugaan dan penambahan pekerjaan melampaui ekspektasi. Reaksi pasar cepat—probabilitas kenaikan suku bunga bulan depan ikut naik tajam dibanding sebelum rilis data.
Sementara itu, yen Jepang masih tertekan. Mata uang ini dibebani dinamika politik domestik setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi memanggil pemilu mendadak dan menjanjikan pelonggaran kebijakan fiskal—membuat investor makin sensitif pada isu utang dan arah kebijakan Jepang ke depan.
Meski sempat muncul narasi investor Eropa keluar dari aset AS, sebagian analis menilai itu terlalu dibesar-besarkan. Sudut pandang yang lebih realistis: ini lebih mirip “manajemen risiko” ketimbang eksodus dari dolar, karena volatilitas pasar naik setelah sebelumnya sangat rendah di akhir tahun lalu.
Pada perdagangan terakhir, dolar melemah tipis terhadap euro dan franc Swiss, sementara Aussie menguat kuat termasuk terhadap yen. Pasar kini menunggu data ekonomi AS sebagai penentu arah selanjutnya—apakah dolar lanjut koreksi, atau justru kembali menguat jika data mengonfirmasi ekonomi AS masih solid.(yds)
Sumber: Reuters.com