Euro Naik, Dolar Turun: Efek Greenland
Dolar AS melemah pada Kamis (22/1), sementara mata uang yang lebih sensitif terhadap risiko seperti euro dan poundsterling menguat. Pasar mulai “lebih adem” setelah Presiden Donald Trump menarik ancaman tarif dan menegaskan tidak akan merebut Greenland dengan kekuatan militer—membuat gelombang panik awal pekan perlahan mereda.
Di pasar valas, EUR/USD naik ke $1,1744 (dolar turun 0,49%), setelah dolar sempat rebound sehari sebelumnya. Sementara itu, dolar juga melemah terhadap franc Swiss—USD/CHF turun ke 0,7899 (dolar turun 0,69%), menandakan minat terhadap aset defensif mulai bergeser saat tensi geopolitik tidak lagi sekeras sebelumnya.
Dari sisi data, rilis PCE (indikator inflasi favorit The Fed) menunjukkan konsumsi AS tetap kuat. Pengeluaran konsumen naik 0,5% di November, sama seperti Oktober. Karena belanja rumah tangga menyumbang porsi terbesar ekonomi AS, data ini memperkuat narasi bahwa ekonomi masih tahan banting—dan itu membuat pasar menimbang ulang arah suku bunga The Fed ke depan.
Di Asia-Pasifik, dolar Australia (AUD) justru tampil paling “nendang”. AUD/USD naik ke $0,684 (menguat sekitar 1,15%) dan menyentuh level terkuat sejak Oktober 2024, setelah data tenaga kerja menunjukkan tingkat pengangguran turun tak terduga. Pasar menilai ini bisa membuat ruang pelonggaran kebijakan jadi lebih sempit—alias peluang kebijakan RBA lebih ketat.
Sebaliknya, yen Jepang masih tertekan. USD/JPY berada di 158,42, tidak jauh dari level rendah yen pekan lalu di sekitar 159,45. Sentimen yen dibebani faktor politik domestik—rencana pemilu sela—dan kekhawatiran fiskal, yang membuat pasar makin sensitif terhadap arah imbal hasil obligasi Jepang.
Obligasi pemerintah Jepang tenor super-panjang juga masih jadi sorotan. Kenaikan harga obligasi (turunnya yield) berlanjut karena spekulasi pemerintah bisa mengambil langkah untuk meredam lonjakan yield lebih lanjut. Fokus pasar kini mengarah ke pertemuan kebijakan Bank of Japan Jumat, karena sinyal yang lebih hawkish dinilai krusial untuk membantu menstabilkan yen di area yang sudah mendekati “zona intervensi” 159–160. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id