Minyak Bertahan Tinggi, Hormuz Jadi Kunci
Harga minyak mempertahankan kenaikan pada perdagangan Senin (10/8) karena Iran dan Oman belum mencapai kesepakatan final untuk membuka kembali Selat Hormuz. Brent bergerak di sekitar US$84,04 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$78,53.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kesepakatan jalur pelayaran dengan Oman sudah “sangat dekat”. Namun, Teheran kembali menegaskan bahwa pembukaan Hormuz tetap bergantung pada pencabutan blokade AS terhadap pelayaran Iran dan pembayaran kompensasi atas kerugian perang.
Presiden AS Donald Trump memilih pendekatan yang lebih sabar dan mengatakan Washington sedang “low-keying it” terhadap Iran. Sikap ini sedikit menurunkan kekhawatiran serangan besar dalam waktu dekat, tetapi belum cukup untuk memastikan arus energi kembali normal.
Selat Hormuz sangat penting bagi pasar energi karena sebelum perang sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut. Permintaan China yang lemah dan pelepasan cadangan darurat sempat membantu menahan lonjakan harga, tetapi bantalan pasokan kini semakin tipis.
Risiko keamanan juga masih tinggi. Sebuah tanker yang dioperasikan ADNOC dilaporkan kembali menjadi target di Hormuz, sementara kelompok Houthi mengklaim menyerang kilang Jazan di Arab Saudi. Pemerintah Saudi mengonfirmasi adanya kebakaran, meski penyebabnya belum dijelaskan.
Analisis Newsmaker: Minyak masih cenderung mendapat dukungan selama pembukaan Hormuz belum pasti dan risiko serangan tetap tinggi. Brent di area US$84 menunjukkan premi geopolitik masih kuat. Kesepakatan resmi dapat menekan harga dengan cepat, tetapi kegagalan negosiasi atau serangan baru berpotensi mendorong minyak lebih tinggi. (arl)
Sumber: Newsmaker.id