Hormuz Memanas Lagi?
Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat pada Senin (10/08) setelah Iran dan Oman belum berhasil mencapai kesepakatan final untuk membuka jalur pelayaran. Iran menyatakan pembicaraan memang mengalami kemajuan, tetapi pembukaan penuh Hormuz tetap bergantung pada tuntutan kepada Amerika Serikat, termasuk pencabutan sanksi dan blokade.
Situasi semakin sensitif setelah muncul laporan di media sosial mengenai dugaan serangan rudal antikapal Iran terhadap sebuah tanker di dekat Oman. Klaim tersebut belum dikonfirmasi secara resmi, sehingga identitas kapal, jumlah rudal, maupun kondisi korban belum dapat dipastikan.
Meski klaim terbaru belum terverifikasi, ancaman terhadap pelayaran memang masih nyata. Dalam beberapa hari terakhir terdapat laporan serangan terhadap kapal di kawasan Hormuz, sementara pergerakan kapal melalui jalur tersebut masih jauh di bawah kondisi normal akibat konflik yang berlangsung sejak awal tahun.
Ketegangan juga meluas ke kawasan Yaman. Kelompok Houthi yang didukung Iran kembali meningkatkan serangan terhadap kepentingan yang berkaitan dengan Arab Saudi, menambah kekhawatiran bahwa konflik dapat menyebar lebih luas dan mengganggu jalur energi di Teluk maupun Laut Merah.
Pasar minyak langsung merespons ketidakpastian tersebut. Pada perdagangan Senin pagi, Brent naik sekitar 0,9% ke US$84,32 per barel, sementara WTI menguat sekitar 0,7% ke US$78,74. Investor kembali memasukkan premi risiko geopolitik karena belum ada kepastian kapan arus minyak melalui Hormuz dapat kembali normal.
Analisis Newsmaker: Selama kesepakatan Iran–Oman belum final dan ancaman terhadap kapal masih muncul, minyak berpeluang tetap bertahan tinggi. Brent kini kembali berada di atas US$84. Eskalasi baru dapat membawa harga naik lebih jauh, sedangkan kesepakatan resmi yang benar-benar menjamin kebebasan pelayaran berpotensi memicu koreksi cepat pada minyak.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id