Dolar Masih Tertekan, CPI Jadi Penentu Berikutnya
Indeks dolar AS bergerak di sekitar level 99,6 pada perdagangan Senin (10/08) setelah mengalami penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Tekanan datang dari data tenaga kerja Amerika Serikat yang jauh lebih lemah dari perkiraan dan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Nonfarm Payrolls Juli secara mengejutkan turun 23 ribu pekerjaan. Data dua bulan sebelumnya juga direvisi turun cukup besar, memperkuat tanda bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum setelah sebelumnya terlihat cukup kuat.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September hanya sekitar 44%, turun dari sekitar 67% pada pekan sebelumnya. Turunnya ekspektasi tersebut ikut menekan yield obligasi dan mengurangi daya tarik dolar AS.
Fokus investor sekarang beralih ke data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Jika CPI menunjukkan tekanan harga mulai melandai, peluang kenaikan suku bunga dapat semakin turun dan dolar berisiko kembali melemah.
Namun, perkembangan Timur Tengah tetap menjadi risiko. Iran membantah adanya pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat dan masih menuntut pencabutan blokade laut, penghapusan sanksi, serta kompensasi atas kerugian perang sebelum kesepakatan dapat tercapai.
Analisis Newsmaker: Dolar masih cenderung tertekan selama pasar menilai The Fed tidak perlu buru-buru menaikkan suku bunga. Area DXY 100 menjadi batas psikologis penting. CPI yang lebih rendah dari perkiraan dapat menekan dolar lebih dalam dan mendukung emas, sedangkan inflasi yang kembali tinggi dapat menghidupkan ekspektasi kenaikan suku bunga dan membawa dolar kembali menguat.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id