Serangan Houthi Balikkan Harga Minyak
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Rabu (5/8) setelah laporan serangan Houthi terhadap tanker minyak Saudi di Laut Merah menghidupkan kembali kekhawatiran pasokan. Brent naik sekitar US$1,07 ke US$80,43 per barel, sementara WTI bertambah US$0,45 ke US$76,22, setelah kedua acuan tersebut anjlok lebih dari 5% pada sesi sebelumnya.
Kelompok Houthi mengklaim telah meluncurkan serangan rudal terhadap sebuah tanker minyak Saudi di dekat Yanbu, salah satu pelabuhan energi penting di pesisir Laut Merah. Namun, waktu serangan belum dijelaskan dan pemerintah Arab Saudi belum memberikan konfirmasi resmi mengenai klaim tersebut.
Kenaikan minyak masih dibatasi oleh harapan kesepakatan sementara antara AS, Iran, dan Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz. Washington disebut menargetkan pengumuman kesepakatan pada Rabu, tetapi Iran menegaskan penyelesaian dapat tertunda selama ancaman militer AS masih berlanjut.
Risiko pelayaran tetap tinggi karena arus kapal melalui Hormuz dan Bab el-Mandeb masih jauh di bawah kondisi sebelum konflik. Serangan terhadap kapal di dua jalur tersebut menunjukkan bahwa kesepakatan Hormuz saja belum cukup untuk memulihkan pasokan apabila gangguan di Laut Merah terus terjadi.
Dari Amerika Serikat, data API menunjukkan persediaan minyak mentah naik sekitar 2,69 juta barel, berlawanan dengan perkiraan penurunan sekitar 2 juta barel. Pasar kini menunggu laporan resmi EIA untuk memastikan apakah peningkatan stok dapat kembali menekan harga minyak.
Analisis Newsmaker: Minyak masih berada di antara dua sentimen besar. Serangan Houthi mendukung kenaikan, sedangkan prospek pembukaan Hormuz dan kenaikan stok AS membatasi reli. Brent berpeluang menguji US$81–US$82 jika serangan terkonfirmasi atau gangguan pelayaran meluas. Sebaliknya, kesepakatan Hormuz dan data EIA yang menunjukkan kenaikan stok dapat membawa harga kembali menuju US$79–US$78.(yds)
Sumber: Newsmaker.id