Minyak Terjun ke Level Terendah Tiga Pekan
Harga minyak jatuh ke level terendah dalam lebih dari tiga pekan pada Selasa (4/8) setelah pasar semakin optimistis AS dan Iran mendekati kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz. Brent kontrak Oktober ditutup turun 5,3% ke US$79,36 per barel, sedangkan WTI kontrak September anjlok 5,7% ke US$75,77 per barel.
Tekanan jual meningkat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kesepakatan pembukaan Hormuz berpeluang tercapai dalam waktu dekat. Qatar juga mengatakan rancangan deeskalasi telah diedarkan kepada pihak-pihak terkait, meski belum ada persetujuan final.
Iran turut dikabarkan mempertimbangkan izin bagi negara-negara Eropa untuk membersihkan ranjau di Selat Hormuz. Langkah tersebut dapat memberikan jaminan keamanan tambahan bagi perusahaan pelayaran dan asuransi sehingga arus kapal komersial perlahan kembali normal.
Namun, risiko pasokan belum sepenuhnya hilang. Arus minyak melalui Hormuz masih jauh di bawah kondisi sebelum perang, sementara serangan terhadap kapal dan perbedaan tuntutan antara Washington dan Tehran dapat menggagalkan kesepakatan sewaktu-waktu.
Penurunan minyak juga diperbesar oleh aksi jual teknikal setelah pelaku pasar memangkas posisi beli secara cepat. Di sisi lain, gangguan ekspor Timur Tengah, ancaman Houthi di Laut Merah, dan serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia masih dapat membatasi penurunan lebih lanjut.
Analisis Newsmaker: Sentimen jangka pendek minyak masih cenderung bearish selama kemajuan diplomasi terus berlanjut. Brent yang bertahan di bawah US$80 berpeluang menguji US$78–US$76, sedangkan WTI dapat menuju US$75–US$73. Namun, kegagalan perundingan atau serangan baru berpotensi membawa Brent kembali ke US$82–US$85 dan WTI ke US$78–US$81. Pasar kemungkinan tetap sangat sensitif terhadap setiap kabar dari AS, Iran, Qatar, dan Oman. (arl)
Sumber : Newsmaker.id