Emas Melonjak ke Puncak Sebulan, Kekhawatiran Inflasi Mereda
Harga emas melesat lebih dari 2% pada perdagangan Rabu (5/8) dan mencapai level tertinggi dalam satu bulan. Dalam pembaruan terbaru, emas spot naik sekitar 2,4% ke US$4.175,53 per troy ons, sedangkan kontrak berjangka emas AS menguat 2% ke US$4.235,30.
Kenaikan terjadi setelah kemajuan pembicaraan AS–Iran meningkatkan harapan pembukaan kembali Selat Hormuz. Prospek normalisasi pasokan menekan harga minyak, meredakan kekhawatiran inflasi, serta mendorong yield Treasury AS ke level lebih rendah. Kondisi tersebut menguntungkan emas karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil ikut berkurang.
Dolar AS yang melemah turut membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sekitar 59%, turun dari 67% sehari sebelumnya. Namun, pernyataan hawkish pejabat The Fed seperti Jeff Schmid masih menjadi penghambat karena inflasi dinilai terlalu tinggi dan kebijakan saat ini belum cukup ketat.
Fokus pasar selanjutnya tertuju pada data ADP Non-Farm Employment Change yang dijadwalkan rilis malam ini pukul 19.15 WIB, dengan perkiraan sekitar 68.000 pekerjaan, turun dari 98.000 sebelumnya. Laporan NFP Juli akan menyusul pada Jumat pukul 19.30 WIB dan berpotensi menentukan ekspektasi suku bunga berikutnya.
Logam mulia lainnya ikut menguat. Perak naik 3,8% ke US$61,76, platinum bertambah 2,6% ke US$1.779,25, sementara palladium menguat 2,6% ke US$1.389,15 dan mencapai level tertinggi dua bulan.
Analisis Newsmaker: Momentum emas saat ini masih bullish setelah menembus area US$4.150. Resistance terdekat berada di US$4.180–US$4.200; penembusan area tersebut dapat membuka peluang menuju US$4.230–US$4.250. Support berada di US$4.140, kemudian US$4.100. ADP yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi memperpanjang reli, sedangkan data yang kuat dapat mengangkat dolar dan memicu profit-taking pada emas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id