Konflik Teluk Panas, Minyak Kembali Catat Tertinggi
Harga minyak naik sekitar 2% pada perdagangan Selasa (21/7) dan menyentuh level tertinggi dalam lima pekan. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi di Timur Tengah dapat semakin memburuk akibat serangan baru antara Amerika Serikat dan Iran.
Minyak Brent naik US$1,83 atau 2,1% ke level US$91,05 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI menguat US$1,92 atau 2,3% ke level US$85,15 per barel. Brent berpotensi mencatat penutupan tertinggi sejak 10 Juni, sementara WTI menuju level tertinggi sejak 11 Juni.
Ketegangan meningkat setelah dua tanker minyak yang membawa crude Saudi menuju Asia berbalik arah di Laut Merah. Langkah ini terjadi setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengancam akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Di saat yang sama, AS kembali menyerang target di wilayah selatan dan barat Iran. Teheran membalas dengan menargetkan fasilitas AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Setidaknya satu tanker juga dilaporkan terkena serangan di Selat Hormuz.
Meski sebagian pasar berharap serangan terbaru AS dapat menjadi upaya terakhir untuk memperkuat posisi negosiasi sebelum kompromi tercapai, risiko kebuntuan tetap tinggi. Jika konflik berlarut, arus energi bisa terus terganggu dan harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi.
Dampaknya ke market, kenaikan minyak dapat kembali memicu kekhawatiran inflasi global dan membuat bank sentral lebih sulit melonggarkan kebijakan. Brent yang sudah berada di area overbought juga rawan koreksi jangka pendek, tetapi risiko geopolitik di Hormuz dan Laut Merah masih menjadi faktor utama yang bisa menjaga harga tetap kuat.(yds)
Sumber: Newsmaker.id