Dolar Menguat, Yen Jatuh ke Level Terlemah
Dolar AS bergerak dekat level tertinggi satu pekan pada perdagangan Selasa (21/7), didukung oleh yield Treasury yang masih tinggi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini membuat investor tetap mencari perlindungan pada aset dolar.
Indeks dolar AS stabil di sekitar 100,93 setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 15 Juli. Penguatan dolar masih ditopang oleh ekspektasi bahwa suku bunga AS dapat bertahan tinggi lebih lama jika tekanan inflasi kembali meningkat.
Yield Treasury AS juga menjadi penopang utama greenback. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun berada di sekitar 4,59%, sementara yield 30 tahun bertahan di atas 5%. Pasar obligasi masih khawatir gangguan energi yang berkepanjangan dapat memicu kembali inflasi konsumen.
Ketegangan di Timur Tengah turut menjaga permintaan safe haven. Konflik yang belum mereda membuat pasar menilai risiko terhadap harga minyak dan pasokan energi masih tinggi, sehingga dolar tetap mendapat dukungan.
Di sisi lain, yen Jepang melemah tajam terhadap dolar AS dan menyentuh level 162,89, menjadi posisi terlemah sejak 1986. Pelemahan yen terjadi karena selisih yield AS dan Jepang masih lebar, sehingga dolar tetap lebih menarik bagi investor.
Dampaknya ke market, dolar AS masih berpeluang menguat selama yield Treasury tinggi dan risiko geopolitik belum mereda. Namun, pelemahan yen yang semakin dalam dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi intervensi Jepang. Sementara itu, poundsterling mendapat dukungan setelah Perdana Menteri Inggris Andy Burnham berjanji menjaga disiplin fiskal.(yds)
Sumber: Newsmaker.id