Minyak Melaju, Pasokan Teluk Terancam
Harga minyak menuju kenaikan mingguan terbesar sejak April karena konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengancam pasokan energi dari Timur Tengah. Brent naik ke atas US$85 per barel dan berpotensi menguat sekitar 12% dalam sepekan, sementara WTI bergerak mendekati US$80 per barel.
Ketegangan meningkat setelah AS kembali melancarkan gelombang serangan ke Iran, termasuk menargetkan fasilitas pertahanan. Serangan ini terjadi setelah operasi sebelumnya menghantam tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran, sehingga kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi makin besar.
Risiko konflik juga melebar ke negara lain di kawasan. Qatar, yang menjadi mediator dalam pembicaraan damai, menyatakan pasukannya berhasil mencegat rudal yang menargetkan negara tersebut. Di saat yang sama, Iran dilaporkan meminta kelompok Houthi di Yaman untuk menutup jalur Bab el-Mandeb menuju Laut Merah jika infrastruktur listrik Iran diserang.
Kondisi ini membuat pasar semakin fokus pada dua jalur energi penting, yaitu Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Hormuz merupakan jalur sekitar seperlima aliran minyak global, sementara Bab el-Mandeb menjadi rute vital bagi ekspor minyak Arab Saudi. Jika keduanya terganggu bersamaan, tekanan pada rantai pasok energi dunia bisa meningkat tajam.
Dampaknya ke market, minyak berpotensi tetap tinggi selama risiko keamanan pelayaran belum mereda. Pasar kini tidak hanya menunggu peluang diplomasi, tetapi juga melihat apakah kapal tanker masih bisa beroperasi di tengah ancaman serangan. Jika gangguan berlanjut, harga energi bisa kembali mendorong inflasi global dan membuat bank sentral lebih berhati-hati terhadap arah suku bunga.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id