Risiko Timur Tengah Tekan Harga Emas
Harga emas masih berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (16/7), karena investor lebih fokus pada risiko inflasi dari kenaikan harga minyak dibandingkan data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan.
Pada pukul 04.42 ET atau 08.42 GMT, XAU/USD turun 0,7% ke level US$4.032,37 per troy ounce. Kontrak emas berjangka juga melemah 0,4% ke US$4.037,10. Sementara itu, perak turun 1,48% ke US$56,92 dan platinum melemah 1,11% ke US$1.659,20.
Sebelumnya, data Producer Price Index atau PPI AS turun 0,3% pada Juni, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan tidak ada perubahan. Data ini mengikuti laporan CPI yang juga lebih jinak, sehingga memperkuat sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda.
Namun, pasar belum sepenuhnya yakin bahwa tren penurunan inflasi bisa bertahan. Konflik Timur Tengah yang kembali memanas mendorong harga minyak naik untuk hari keempat berturut-turut. Kenaikan energi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa inflasi bisa kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
The Fed juga masih menjaga sikap hati-hati. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa bank sentral tetap berkomitmen membawa inflasi kembali ke target 2%. Sementara itu, Lisa Cook membuka peluang tindakan lanjutan jika inflasi tetap tinggi, dan John Williams menilai posisi suku bunga saat ini sudah tepat untuk menekan inflasi.
Dampaknya ke market, emas masih sulit menguat karena harga minyak yang tinggi bisa membuat The Fed mempertahankan suku bunga di level tinggi lebih lama. Jika dolar dan yield Treasury kembali naik, tekanan terhadap emas bisa berlanjut. Namun, jika data inflasi berikutnya tetap jinak dan minyak mulai mereda, emas berpeluang mendapat dorongan kembali. (arl)
Sumber: Newsmaker.id