Minyak Stabil, Diplomasi AS-Iran Jadi Penahan
Harga minyak bergerak stabil pada akhir pekan yang penuh gejolak, seiring pasar mencermati kelanjutan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Brent diperdagangkan di atas US$76 per barel setelah turun lebih dari 2% pada Kamis, sementara West Texas Intermediate atau WTI bergerak di sekitar US$72 per barel.
Pergerakan minyak masih dipengaruhi oleh ketegangan di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman energi dari kawasan Teluk ke pasar global. Lalu lintas kapal melalui jalur tersebut turun tajam setelah serangkaian serangan terhadap kapal dan serangan balasan antara AS dan Iran. Meski begitu, pasar melihat situasi ini belum sepenuhnya berubah menjadi perang besar.
Sentimen sedikit membaik setelah pejabat AS menyatakan pembicaraan teknis dengan Iran masih berlangsung dan Washington tetap berkomitmen mencari solusi. Kondisi ini memberi sinyal bahwa jalur diplomasi belum tertutup, meskipun status gencatan sebelumnya masih tidak jelas setelah Presiden AS Donald Trump sempat menyebut kesepakatan itu sudah berakhir.
Di sisi lain, pasar tetap waspada karena aktivitas kapal di Selat Hormuz masih tipis. Data pelacakan menunjukkan tidak ada kapal komoditas besar yang terlihat melintas, meski satu supertanker kosong milik Yunani dilaporkan kembali masuk ke kawasan Teluk setelah melewati jalur tersebut. Situasi ini membuat pelaku pasar terus memantau apakah pasokan dari produsen Teluk, termasuk Arab Saudi, tetap berjalan lancar.
Investor juga menunggu laporan bulanan International Energy Agency atau IEA untuk membaca arah permintaan dan pasokan minyak global. Pada saat yang sama, struktur harga Brent menunjukkan pasar masih ragu menentukan arah. Setelah sempat berada dalam pola bearish di awal pekan, lalu berubah menjadi lebih ketat pada pertengahan pekan, kondisi pada Jumat kembali hampir seimbang. Artinya, minyak masih berpotensi bergerak volatil selama konflik AS-Iran belum benar-benar mereda.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id