Risiko Perang Mereda, Harga Minyak Merosot
Harga minyak kembali melemah pada perdagangan Rabu (24/6), seiring semakin banyak kapal tanker yang secara terbuka melintasi Selat Hormuz. Brent turun ke sekitar US$75 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI bergerak di bawah US$72 per barel. Penurunan ini terjadi karena pasar melihat risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk Persia mulai mereda setelah Amerika Serikat dan Iran memberi sinyal kemajuan dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang.
Sinyal pemulihan terlihat dari meningkatnya kapal yang menyalakan sinyal satelit saat melewati Selat Hormuz. Kondisi ini menunjukkan kepercayaan pemilik kapal mulai membaik, terutama setelah International Maritime Organization menerima jaminan keselamatan yang memungkinkan ratusan kapal keluar dari Teluk Persia. Jika arus kapal kembali normal, kekhawatiran pasar terhadap kelangkaan minyak global dapat semakin berkurang.
Meski begitu, proses diplomasi belum sepenuhnya mulus. Washington dan Teheran sama-sama menyebut adanya kemajuan awal, tetapi klaim dari kedua pihak masih berbeda. Pasar juga masih mencermati pembahasan antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz, termasuk kekhawatiran bahwa Iran dapat menarik biaya transit. Isu ini penting karena Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dan gas dunia.
Tekanan harga minyak juga semakin kuat karena pasokan fisik mulai menunjukkan tanda pemulihan. International Energy Agency memperkirakan Uni Emirat Arab sudah mengekspor minyak hampir 85% dari level sebelum perang. Dalam beberapa pekan terakhir, UAE juga disebut telah menjual sekitar 60 juta barel minyak dari dalam Teluk Persia. Kembalinya pasokan ini membuat pasar mulai melepas premi risiko perang yang sebelumnya mendorong harga minyak naik tajam.
Di pasar fisik, tanda-tanda pelemahan semakin terlihat. Selisih harga kontrak Brent terdekat menyempit tajam, menunjukkan kekhawatiran pasokan mulai mereda. Premi minyak dari kawasan Laut Utara hingga Afrika Barat juga menurun, menandakan pembeli tidak lagi bersedia membayar mahal seperti saat konflik berada di puncaknya. Harga minyak kini sudah turun sekitar 40% dari level tertinggi selama masa perang, seiring lalu lintas kapal yang perlahan kembali pulih.
Namun, risiko belum sepenuhnya hilang. Di Amerika Serikat, stok minyak di hub penyimpanan Cushing, Oklahoma, dilaporkan turun lagi sekitar 1 juta barel. Jika data resmi mengonfirmasi penurunan tersebut, persediaan Cushing bisa jatuh di bawah 20 juta barel, yang sering dianggap sebagai batas minimum operasional. Artinya, meski sentimen geopolitik membuat harga minyak melemah, ketatnya pasokan di beberapa wilayah masih bisa menahan penurunan harga lebih dalam. (arl)
Sumber: Newsmaker.id