Emas Pangkas Penurunan, Data PMI AS Jadi Sorotan Pasar
Harga emas mulai bangkit dari level terendah sesi pada perdagangan Selasa (23/6), setelah data terbaru menunjukkan aktivitas bisnis Amerika Serikat tumbuh lebih kuat dari perkiraan. S&P Global melaporkan indeks PMI komposit AS naik ke level 52,2 pada Juni, lebih tinggi dari posisi Mei di 51,5 dan melampaui perkiraan ekonom yang berada di 50,8. Angka di atas 50 menandakan ekspansi, sehingga data ini menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat meski dibayangi suku bunga tinggi dan tekanan geopolitik.
Meski sempat memangkas penurunan, emas masih berada dalam tekanan besar. Spot gold sebelumnya turun hampir 2% ke sekitar US$4.119 per troy ounce, sementara kontrak emas berjangka AS melemah ke kisaran US$4.139. Tekanan utama datang dari penguatan dolar AS yang bertahan dekat level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Dolar yang kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga membatasi minat beli terhadap logam mulia.
Data PMI yang lebih kuat dari perkiraan memberi sinyal ganda bagi pasar emas. Di satu sisi, ekonomi AS yang masih ekspansif dapat mengurangi kekhawatiran resesi dan membuat investor lebih percaya diri terhadap aset berisiko. Namun, di sisi lain, data yang kuat juga bisa memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve masih punya ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkan suku bunga lagi tahun ini. Kondisi ini menjadi beban bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Sektor manufaktur menjadi bagian paling kuat dalam laporan tersebut. PMI manufaktur naik ke 55,7, level tertinggi sejak Mei 2022, karena pabrik meningkatkan produksi untuk memenuhi lonjakan pesanan baru. Namun, S&P Global juga mencatat bahwa sebagian pertumbuhan manufaktur masih didorong oleh penumpukan stok akibat kekhawatiran gangguan pasokan dan kenaikan harga. Artinya, kekuatan data tersebut belum sepenuhnya mencerminkan permintaan yang sehat dan berkelanjutan.
Dari sisi geopolitik, kemajuan pembicaraan Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor yang ikut menekan permintaan safe haven terhadap emas. Amerika Serikat telah memberikan waiver sanksi selama 60 hari untuk sebagian penjualan minyak Iran setelah pembicaraan awal di Swiss dinilai konstruktif. Jika pasokan energi dari Timur Tengah kembali pulih, harga minyak bisa lebih terkendali dan tekanan inflasi energi dapat mereda. Namun, pasar tetap berhati-hati karena risiko konflik belum sepenuhnya hilang.
Fokus utama investor kini tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat yang akan dirilis Kamis. Data ini menjadi indikator inflasi favorit The Fed dan akan sangat menentukan arah emas berikutnya. Jika PCE menunjukkan inflasi masih panas, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat semakin kuat dan emas berisiko kembali turun ke area US$4.100 hingga US$4.000. Namun, jika inflasi mulai melandai, emas berpeluang mempertahankan rebound dan kembali menguji area US$4.165 hingga US$4.200.(arl)
Sumber: Newsmaker.id