Kapal Tanker Mulai Ramai Lewati Hormuz, Kepercayaan Pasar Energi Meningkat
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah ketegangan di kawasan Teluk Persia mereda. Semakin banyak kapal tanker yang melintasi jalur tersebut dengan sinyal pelacakan satelit atau AIS dalam kondisi aktif. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemilik kapal, pedagang energi, dan pelaku pasar mulai lebih percaya diri untuk mengirim kapal melalui salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Menurut data pelacakan kapal yang dikumpulkan Bloomberg, tujuh kapal tanker berada di Selat Hormuz atau telah melintasinya pada Selasa. Di antaranya termasuk dua supertanker non-Iran yang membawa muatan penuh. Seluruh kapal tersebut menyiarkan lokasi mereka secara terbuka. Perubahan ini dinilai sebagai sinyal membaiknya kepercayaan pelaku pelayaran karena Iran diperkirakan akan menahan diri untuk tidak menargetkan kapal yang melintas.
Meski begitu, pasar belum sepenuhnya menganggap situasi sudah aman. Analis minyak mentah senior Kpler, Muyu Xu, memperingatkan bahwa masih perlu dilihat apakah jalur pelayaran yang aman dan tidak terbatas benar-benar bisa terwujud. Hal ini karena masih ada kapal yang memilih mematikan sinyal transponder saat melewati sebagian jalur. Salah satunya adalah supertanker lain yang masuk ke Teluk Persia dengan sinyal dimatikan, sebelum kembali muncul setelah melewati kawasan tersebut.
Pemulihan Selat Hormuz menjadi perhatian besar karena jalur ini sempat hampir terhenti sejak perang pecah pada akhir Februari. Kini, jutaan barel minyak mulai kembali mengalir melalui jalur tersebut dengan kecepatan tertinggi sejak konflik dimulai. Iran juga menyatakan bahwa Selat Hormuz telah sepenuhnya terbuka untuk pelayaran komersial dan volume minyak dalam jumlah besar telah melewatinya. Kondisi ini ikut menekan harga minyak, yang telah turun hampir 40% dari puncaknya saat konflik memanas.
Pada masa damai, sekitar 135 kapal biasanya melintasi Selat Hormuz setiap hari. Kapal-kapal tersebut membawa minyak, produk minyak, gas alam, kontainer, produk curah, hingga ternak. Sistem AIS menjadi penting karena dibutuhkan oleh perusahaan asuransi, pemodal, dan pihak hukum untuk memastikan transparansi perjalanan kapal. Jika semakin banyak kapal kembali menyalakan sinyal secara terbuka, pasar minyak dan pelayaran akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai pemulihan arus energi dari Teluk Persia.
Salah satu kapal yang menjadi perhatian adalah VLCC Universal Glory, yang memasuki Selat Hormuz pada Selasa pagi dari dalam Teluk Persia dengan membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Saudi. Kapal tersebut mengambil rute di dekat bagian tengah selat dan mencantumkan Korea Selatan sebagai tujuan. Di belakangnya terdapat dua kapal tanker produk, sementara kapal lain berbendera Norwegia dan satu VLCC lainnya bergerak di sepanjang pantai Oman. Sehari sebelumnya, tiga VLCC yang membawa minyak mentah Iran juga secara terbuka menyiarkan penyeberangan mereka.
Meski sinyal pemulihan semakin terlihat, kehati-hatian masih tetap ada. Beberapa kapal masih memilih mematikan transponder pada sebagian perjalanan karena risiko keamanan belum sepenuhnya hilang. Namun, jika tren kapal yang menyalakan sinyal terus berlanjut, hal ini bisa menjadi bukti bahwa pasar semakin percaya terhadap stabilitas Selat Hormuz. Dampaknya, tekanan terhadap harga minyak dapat berlanjut karena risiko gangguan pasokan menurun. Sebaliknya, jika ketegangan kembali meningkat, jalur ini tetap berpotensi menjadi pemicu lonjakan harga energi global.(gn)
Sumber: Newsmaker.id