Aktivitas Bisnis AS Menguat, Manufaktur Jadi Penopang Utama
Aktivitas bisnis Amerika Serikat tumbuh lebih cepat pada Juni 2026, ditopang oleh lonjakan permintaan barang manufaktur. Data awal S&P Global menunjukkan pada Selasa (23/6), indeks PMI komposit naik ke level 52,2 dari 51,5 pada Mei, menjadi level tertinggi dalam lima bulan. Angka di atas 50 menandakan ekspansi, sehingga data ini memberi sinyal bahwa ekonomi AS masih mampu bertahan meski dibayangi harga tinggi, suku bunga tinggi, dan dampak konflik Timur Tengah.
Penguatan terbesar datang dari sektor manufaktur. PMI manufaktur AS naik ke 55,7, level tertinggi sejak Mei 2022, sementara indeks output manufaktur naik ke 57,7 atau tertinggi dalam 59 bulan. Pabrik-pabrik meningkatkan produksi untuk memenuhi lonjakan pesanan baru, yang tumbuh paling kuat dalam lebih dari empat tahun. Namun, sebagian permintaan ini masih didorong oleh aksi penumpukan stok karena perusahaan khawatir terhadap gangguan pasokan dan potensi kenaikan harga akibat konflik di Timur Tengah.
Sektor jasa juga membaik, meskipun pertumbuhannya masih terbatas. Indeks aktivitas jasa naik ke 51,3, tertinggi dalam empat bulan. S&P Global mencatat sebagian aktivitas jasa mendapat dorongan dari Piala Dunia, tetapi permintaan tetap tertahan oleh harga yang masih tinggi, suku bunga tinggi, dan rendahnya kepercayaan konsumen. Hal ini membuat ekonomi AS terlihat tidak seimbang: manufaktur tumbuh kuat, sementara jasa masih bergerak lebih lambat.
Dari sisi biaya, tekanan harga masih menjadi perhatian. Harga input memang naik dengan laju yang sedikit lebih lambat dibanding bulan sebelumnya, tetapi tetap berada di level tinggi secara historis. Waktu pengiriman pemasok juga makin panjang, menunjukkan gangguan rantai pasok masih meluas. Karena itu, banyak pabrik meningkatkan pembelian bahan baku dan menambah persediaan, dengan stok input naik pada salah satu laju tercepat dalam sejarah survei.
Namun, data ini juga menyimpan sinyal negatif dari pasar tenaga kerja. Perusahaan kembali memangkas jumlah karyawan pada Juni, baik di sektor manufaktur maupun jasa, karena biaya tinggi dan ketidakpastian prospek ekonomi. Di sektor manufaktur, penurunan jumlah tenaga kerja bahkan menjadi yang terdalam sejak masa lockdown Covid-19 pada awal 2020. Artinya, meskipun aktivitas bisnis membaik, perusahaan masih berhati-hati dalam menjaga biaya operasional.
Ke depan, data PMI ini bisa memperkuat perhatian pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve. Aktivitas bisnis yang membaik dapat mendukung pandangan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat, tetapi tekanan harga yang masih tinggi dapat membuat The Fed tetap hawkish. Investor kini akan mencermati data inflasi PCE sebagai petunjuk berikutnya. Jika inflasi tetap panas, dolar AS bisa kembali mendapat dukungan, sementara emas dan saham teknologi berpotensi tetap tertekan.(arl)
Sumber: Newsmaker.id