PCE Jadi Kunci Reli Dolar Berikutnya
Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun pada perdagangan Selasa (23/6), seiring meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Indeks dolar AS naik ke sekitar 101,24, didukung oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi dan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter. Kondisi ini membuat greenback semakin menarik dibandingkan mata uang utama lainnya.
Penguatan dolar terjadi setelah pertemuan The Fed pekan lalu menunjukkan sikap yang lebih hawkish. Meski bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, proyeksi terbaru memperlihatkan adanya dukungan yang lebih besar terhadap setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Reuters mencatat pasar kini memperkirakan peluang besar terhadap kenaikan suku bunga, dengan spekulasi kenaikan Fed ikut mendorong dolar ke posisi tertinggi sejak Mei 2025.
Tekanan juga terlihat pada euro. Mata uang tunggal Eropa melemah setelah Presiden European Central Bank, Christine Lagarde, meredam kekhawatiran terhadap efek inflasi lanjutan atau second-round effects. Di saat yang sama, data terbaru menunjukkan aktivitas sektor swasta zona euro masih menyusut untuk bulan ketiga berturut-turut, dengan PMI komposit berada di 49,5 pada Juni. Kombinasi ekonomi yang lemah dan sikap ECB yang lebih hati-hati membuat euro semakin tertekan terhadap dolar.
Pound sterling ikut melemah dalam perdagangan yang volatil setelah pengunduran diri Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menambah ketidakpastian politik di Inggris. Sementara itu, dolar Australia yang sensitif terhadap risiko turun ke level terendah sejak April. Pelemahan sejumlah mata uang utama ini menunjukkan bahwa pasar sedang mencari perlindungan pada dolar AS, terutama ketika arah suku bunga global semakin tidak pasti.
Yen Jepang menjadi sorotan utama karena kembali bergerak dekat level terlemah dalam hampir 40 tahun. USD/JPY berada di sekitar 161,43 setelah sebelumnya sempat menyentuh 161,93. Jika melewati 161,96, yen berisiko jatuh ke level terlemah sejak 1986. Kondisi ini membuat pelaku pasar waspada terhadap potensi intervensi dari otoritas Jepang, apalagi Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama telah berdiskusi dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent terkait pelemahan yen dan volatilitas mata uang.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada rangkaian data ekonomi Amerika Serikat, terutama indeks harga Personal Consumption Expenditures atau PCE yang menjadi indikator inflasi favorit The Fed. Data PMI Juni dan revisi pertumbuhan ekonomi kuartal pertama juga akan menjadi perhatian. Jika data menunjukkan ekonomi AS tetap kuat dan inflasi masih panas, reli dolar berpeluang berlanjut. Namun, jika data mulai melemah, pasar bisa kembali memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga dan menahan laju penguatan greenback.(arl)
Sumber: Newsmaker.id