Dolar AS Menguat, OCBC Soroti Risiko Kenaikan Lebih Lanjut
Dolar Amerika Serikat masih mendapat dukungan kuat dari imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi dan arah kebijakan Federal Reserve yang semakin hawkish. Sim Moh Siong dari OCBC menilai perubahan sikap The Fed membuat pasar kembali memperkirakan jalur suku bunga yang lebih agresif. Kondisi ini menjaga dolar tetap kokoh, meskipun harga minyak sempat melemah dan risiko geopolitik mulai sedikit mereda.
Menurut OCBC, kenaikan yield Treasury di seluruh tenor menunjukkan bahwa penguatan dolar saat ini lebih banyak digerakkan oleh ekspektasi suku bunga, bukan semata-mata oleh harga energi. Artinya, pasar melihat The Fed masih punya alasan untuk mempertahankan kebijakan ketat, terutama karena inflasi belum benar-benar kembali ke target. Sikap hawkish dari The Fed membuat investor lebih memilih dolar, karena mata uang ini menawarkan daya tarik dari sisi imbal hasil dan status safe haven.
OCBC juga menyoroti perubahan gaya komunikasi Ketua The Fed Kevin Warsh yang lebih ringkas. Pernyataan FOMC yang lebih singkat membuat pasar tidak lagi mendapatkan banyak arahan langsung dari bank sentral, sehingga fokus investor akan semakin tertuju pada data ekonomi yang masuk. Kondisi ini berpotensi meningkatkan volatilitas pasar valuta asing, karena setiap data inflasi, tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi bisa langsung mengubah ekspektasi terhadap arah suku bunga.
Fokus utama berikutnya adalah data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE inti Amerika Serikat bulan Mei. Data ini menjadi indikator inflasi favorit The Fed dan akan menjadi penentu penting bagi arah dolar. Jika PCE menunjukkan tekanan inflasi masih kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat meningkat dan mendukung penguatan dolar. Namun, jika data mulai melandai, kenaikan dolar bisa tertahan karena pasar mungkin menilai sikap hawkish The Fed sudah terlalu berlebihan.
Meski OCBC masih melihat dolar bergerak dalam kisaran terbatas, risiko penguatan lebih besar mulai meningkat. Penembusan jelas indeks dolar atau DXY di atas kisaran 14 bulan dapat membuka peluang kenaikan sekitar 2% hingga 3%. Bahkan, reli yang lebih besar di atas 5% masih menjadi risiko ekor apabila harga minyak naik kembali ke atas US$100 per barel atau pertumbuhan ekonomi AS yang didorong sektor AI menjadi terlalu panas. Dalam skenario tersebut, inflasi bisa kembali naik, pengangguran turun, dan ekspektasi inflasi jangka menengah ikut meningkat, sehingga dolar berpeluang semakin kuat.(gn)
Sumber: Newsmaker.id