Dolar Bertahan Kuat Ditopang The Fed dan Yield Tinggi
Dolar Amerika Serikat bergerak stabil pada perdagangan Senin (22/6), seiring investor mencermati perkembangan awal pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Indeks dolar bertahan di sekitar level 101,3 setelah pertemuan Federal Reserve pekan lalu membuat pasar memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Greenback juga mendapat dukungan dari imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi, karena investor semakin yakin biaya pinjaman di Amerika Serikat akan bertahan lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Sentimen terhadap dolar juga diperkuat oleh ketidakpastian politik di Inggris. Pound sterling bergerak lemah dan berada dekat level terendah sejak akhir Maret terhadap dolar AS, setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan akan mundur dari jabatannya. Tekanan terhadap sterling semakin besar setelah Andy Burnham mencatat kemenangan penting dalam pemilihan sela parlemen, yang membuka jalan bagi kontestasi kepemimpinan Partai Buruh pada musim panas ini.
Keluarnya Starmer dari panggung kepemimpinan dinilai menghilangkan sebagian stabilitas politik yang sebelumnya menopang pound. Meski pasar masih memberi ruang positif terhadap kemungkinan kepemimpinan Andy Burnham, pelaku pasar tetap berhati-hati karena arah fiskal Inggris menjadi faktor utama yang akan menentukan ketahanan sterling. Jika pemimpin baru tidak mampu menjaga disiplin anggaran, tekanan terhadap pound berpotensi kembali meningkat.
Dari sisi geopolitik, sentimen pasar membaik setelah pejabat Iran menyebut adanya kemajuan dalam pembicaraan empat pihak dengan Amerika Serikat di Swiss. Mediator Qatar dan Pakistan menyatakan bahwa kedua negara akan melanjutkan pembicaraan teknis terkait nota kesepahaman 14 poin pada pekan ini. Perkembangan ini membantu menenangkan kekhawatiran terhadap eskalasi baru di Timur Tengah, meskipun ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Tehran masih membuat pasar tetap waspada.
Di pasar mata uang utama, kekuatan dolar terlihat menekan sejumlah mata uang negara maju. Euro melemah ke sekitar US$1,146 karena pelaku pasar menilai adanya perbedaan arah kebijakan antara European Central Bank dan The Fed. ECB dinilai lebih berhati-hati dalam merespons inflasi, sementara The Fed masih menunjukkan sikap hawkish setelah pasar memperkirakan tambahan pengetatan sekitar 40 basis poin hingga akhir tahun.
Fokus utama investor pekan ini tertuju pada rilis data Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat. Data ini menjadi indikator inflasi favorit The Fed dan akan memberi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya. Jika inflasi masih kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat semakin meningkat dan mendukung penguatan dolar. Namun, jika tekanan harga mulai mereda, ruang penguatan greenback kemungkinan akan lebih terbatas.(arl)
Sumber: Newsmaker.id