Minyak Naik, Damai AS-Iran Diuji Lagi!
Harga minyak menguat pada awal perdagangan Senin (22/6) setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Iran jika Hizbullah terus menyerang Israel. Ancaman ini membuat pasar kembali khawatir terhadap kelanjutan proses damai antara Washington dan Teheran, meski negosiasi tingkat tinggi di Bürgenstock, Swiss, tetap berlanjut hingga awal Senin.
Brent sempat naik hingga 2,2% ke $82,30 per barel sebelum diperdagangkan menguat 1,4% di $81,69 per barel pada pukul 08.05 waktu Singapura. WTI untuk pengiriman Agustus naik 2,5% ke $77,78 per barel. Kenaikan ini menunjukkan pasar masih memberi premi risiko pada minyak karena konflik Timur Tengah belum sepenuhnya reda.
Pembicaraan AS-Iran dimulai dalam kondisi tidak stabil. Media Iran sempat melaporkan Teheran menghentikan perundingan setelah ancaman Trump, tetapi beberapa laporan mengatakan pembicaraan tetap berlangsung. Isu utama yang dibahas mencakup mekanisme untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka dan cara menegakkan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian karena jalur ini sangat penting bagi perdagangan energi global. Meski Iran mengklaim kembali menutup Hormuz, jutaan barel minyak tetap mengalir melalui jalur tersebut sepanjang akhir pekan. Sebelum perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima ekspor LNG global juga melewati Hormuz, sehingga risiko gangguan di jalur ini ikut mengangkat harga gas alam Eropa, bensin AS, dan diesel.
Dari sisi pasokan, produsen Teluk Persia mulai bersiap meningkatkan produksi jika situasi membaik. Kuwait membatalkan status force majeure, sementara Abu Dhabi National Oil Co. meminta pelanggan kembali memuat minyak dari pelabuhan di Teluk Persia. Namun, pembukaan penuh Hormuz juga dapat menciptakan tekanan baru karena sekitar 80 juta barel minyak berpotensi masuk ke pasar ketika permintaan dari China sedang lemah.
Lima inti utama dari pergerakan ini adalah ancaman Trump meningkatkan premi risiko minyak, negosiasi AS-Iran masih rapuh, Hormuz tetap menjadi titik kunci pasokan global, produsen Teluk mulai menyiapkan pemulihan ekspor, dan pasar menghadapi risiko kelebihan pasokan jika jalur dibuka penuh terlalu cepat. Fokus berikutnya tertuju pada hasil perundingan Swiss, kepatuhan Israel-Hizbullah terhadap gencatan senjata, volume aktual kapal di Hormuz, serta respons produsen Teluk terhadap pemulihan arus energi.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id