Bursa Asia Dibuka Campuran, Risiko Timur Tengah Membayangi
Bursa Asia-Pasifik dibuka beragam pada Senin (22/06), saat investor mencermati kenaikan harga minyak dan ketidakpastian konflik Timur Tengah. Fokus pasar tertuju pada negosiasi AS-Iran di Swiss, yang menjadi penentu penting bagi arah risiko geopolitik dan stabilitas arus energi melalui Selat Hormuz.
Kontrak berjangka Nikkei 225 mengarah ke pembukaan lebih tinggi. Futures di Chicago berada di 71.545, sementara kontrak Osaka terakhir diperdagangkan di 71.850, dibandingkan penutupan Nikkei sebelumnya di 71.250,06.
Di Hong Kong, futures Hang Seng berada di 23.846, lebih rendah dari penutupan terakhir indeks di 23.924,81. Sementara itu, futures Australia diperdagangkan di 8.812, sedikit di bawah penutupan S&P/ASX 200 sebelumnya di 8.828,70.
Sentimen pasar masih dibayangi ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump untuk kembali menyerang Iran. Ancaman itu muncul ketika Wakil Presiden JD Vance bersiap memimpin pembicaraan damai dengan pejabat Iran di Swiss berdasarkan kesepakatan sementara yang telah dicapai sebelumnya.
Harga minyak ikut menguat karena pasar masih menilai risiko konflik belum sepenuhnya mereda. Kenaikan terjadi meski sedikitnya 20 tanker minyak dilaporkan telah melintasi Selat Hormuz sejak AS dan Iran mulai membuka kembali jalur laut tersebut untuk kapal komersial.
Bagi pasar Asia, kenaikan minyak dapat menjadi tekanan tambahan bagi negara importir energi karena berpotensi meningkatkan biaya input dan inflasi. Jika harga energi terus naik, sentimen terhadap saham konsumen, transportasi, dan manufaktur dapat melemah, sementara sektor energi berpeluang mendapat dukungan.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada hasil pembicaraan AS-Iran, respons pasar minyak terhadap arus tanker di Hormuz, serta apakah ancaman Trump akan menghambat proses de-eskalasi. Selama ketidakpastian Timur Tengah belum reda, pembukaan bursa Asia berpotensi tetap selektif dengan volatilitas lebih tinggi pada indeks yang sensitif terhadap harga energi.(asd)
Sumber: Newsmaker.id