Lagarde Sebut ECB Belum Perlu Agresif
Presiden European Central Bank atau ECB, Christine Lagarde, menegaskan bahwa bank sentral belum perlu mengambil respons kebijakan yang lebih agresif terhadap dampak konflik Timur Tengah. Menurutnya, meskipun tekanan inflasi di zona euro masih berada di atas target, ekspektasi inflasi jangka panjang tetap relatif terkendali dan belum menunjukkan tanda-tanda pelepasan yang berbahaya.
Lagarde menyampaikan bahwa rumah tangga memang memperkirakan kenaikan harga konsumen lebih cepat dalam jangka pendek. Namun, untuk periode yang lebih panjang, ekspektasi inflasi masih terlihat stabil. Kondisi ini memberi keyakinan kepada ECB bahwa inflasi dapat kembali menuju target 2% dalam jangka menengah, selama kebijakan moneter tetap dijalankan secara tepat dan proporsional.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena pasar sedang menilai apakah ECB akan melanjutkan kenaikan suku bunga setelah sebelumnya kembali mengetatkan kebijakan. Investor masih memperkirakan setidaknya ada satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, dengan tingkat deposit berpotensi naik menuju 2,5%. Namun, setelah pernyataan Lagarde, pelaku pasar mulai sedikit memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan.
Dari sisi fundamental, tekanan inflasi zona euro masih belum sepenuhnya mereda. Inflasi utama masih berada di atas 3%, sementara inflasi inti yang tidak menghitung energi dan makanan juga kembali menguat. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya berasal dari energi, tetapi mulai menyebar ke komponen lain seperti jasa dan upah. Karena itu, ECB tetap perlu waspada terhadap potensi efek lanjutan dari kenaikan harga.
Namun, penurunan harga minyak ke bawah US$80 per barel setelah kemajuan negosiasi Amerika Serikat dan Iran membantu meredakan sebagian tekanan terhadap pembuat kebijakan. Jika harga energi terus turun, risiko inflasi dari sisi biaya produksi dan transportasi dapat ikut berkurang. Hal ini bisa memberi ruang bagi ECB untuk tidak terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga.
Meski begitu, Lagarde menekankan bahwa situasi masih rapuh. ECB harus tetap fleksibel dan siap menyesuaikan kebijakan jika guncangan dari Timur Tengah kembali memburuk. Dengan kata lain, bank sentral Eropa belum menutup pintu terhadap kenaikan suku bunga lanjutan, tetapi untuk saat ini mereka memilih pendekatan yang lebih terukur sambil menunggu perkembangan inflasi, harga energi, dan stabilitas geopolitik.(arl)
Sumber: Newsmaker.id