Pasokan Iran Mereda, Harga Minyak Berbalik Turun
Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (22/6) sesi Eropa setelah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss memberi harapan baru terhadap stabilitas pasokan global. Brent bergerak di sekitar US$79–80 per barel, setelah sempat naik ke US$82,30 pada awal perdagangan. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI berada di kisaran US$76–77 per barel, dengan pelaku pasar masih mencermati kontrak yang akan berakhir pada hari yang sama.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Iran menyatakan telah memperoleh keringanan untuk ekspor minyak dan petrokimia. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi kekurangan pasokan, terutama setelah sebelumnya harga minyak sempat terdorong naik oleh ancaman Presiden AS Donald Trump untuk kembali menyerang Iran, serta pengumuman Tehran mengenai penutupan Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi perhatian utama karena merupakan salah satu rute penting pengiriman energi dunia.
Dari sisi fundamental, pasar menilai potensi kembalinya ekspor minyak Iran dapat menambah pasokan di tengah kondisi permintaan global yang masih belum sepenuhnya kuat. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut negaranya juga mendapatkan pembukaan sebagian aset yang dibekukan serta rencana rekonstruksi dan pembangunan. Jika ekspor minyak Iran terus berjalan, tambahan barel ke pasar berpotensi menahan kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.
Meski demikian, pemulihan pasokan belum sepenuhnya mudah. Sejumlah negara produsen seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak dilaporkan mulai menawarkan tambahan minyak kepada pelanggan. Irak juga berencana memulihkan produksi secara bertahap ke kisaran 4,2 juta hingga 4,3 juta barel per hari. Namun, risiko geopolitik masih menjadi faktor besar karena konflik di Lebanon kembali memanas setelah serangan Israel menewaskan sedikitnya 20 orang, hanya sehari setelah gencatan senjata dengan Hezbollah mulai berlaku.
Dengan kondisi tersebut, arah harga minyak masih akan sangat bergantung pada keberlanjutan pembicaraan AS-Iran, perkembangan di Selat Hormuz, dan konsistensi pemulihan pasokan dari Timur Tengah. Selama risiko konflik belum benar-benar mereda, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil. Namun untuk saat ini, pasar lebih merespons peluang bertambahnya pasokan, sehingga Brent dan WTI cenderung terkoreksi dari level tertingginya.(arl)
Sumber : Newsmaker.id