Minyak Melemah Saat Kesepakatan Hormuz Buka Prospek Pasokan
Harga minyak turun setelah kesepakatan damai sementara AS-Iran mulai berlaku, membuat fokus pasar beralih ke seberapa cepat lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz dapat kembali normal. Pemulihan jalur tersebut dipandang penting karena produsen Teluk Persia mulai menyiapkan kembali produksi yang sebelumnya terhenti.
Brent turun ke bawah $79 per barel setelah sempat menguat tipis pada Rabu, sementara West Texas Intermediate bergerak di sekitar $76. Presiden AS Donald Trump mengatakan telah menandatangani kesepakatan yang mencakup pembukaan cepat jalur penting tersebut.
Iran menegaskan pencabutan sanksi AS harus dilakukan segera. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan Teheran harus dapat menjual minyaknya, sementara layanan pengiriman, asuransi, dan penerimaan pendapatan dari penjualan minyak tidak boleh menghadapi hambatan.
Harga crude kini telah menghapus hampir seluruh kenaikan yang terjadi selama konflik. Perang dimulai pada Februari setelah AS dan Israel menyerang Iran untuk menekan program nuklirnya. Teheran kemudian memblokir Hormuz, jalur yang dalam kondisi normal dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global, sebelum AS ikut memberlakukan blokade di jalur tersebut.
Menjelang penandatanganan kesepakatan, industri minyak dan pelayaran masih mengambil sikap menunggu. Namun, beberapa kapal mulai mengalihkan rute ke Timur Tengah, sementara tanker Iran yang membawa minyak mulai bergerak keluar. Sejumlah broker kapal juga melaporkan adanya permintaan awal untuk menyewa kapal yang akan mengambil minyak dari pelabuhan di kawasan tersebut.
Prospek pasokan tambahan menjadi tekanan utama bagi harga minyak. Irak, sebagai produsen terbesar kedua di kawasan, juga menyatakan sedang mengambil langkah untuk meningkatkan ekspor. Jika arus minyak dari kawasan Teluk kembali pulih, pasar dapat menghadapi tambahan pasokan yang menekan harga dalam jangka pendek.
Meski harga melemah, tekanan pada persediaan belum sepenuhnya hilang. Stok di Cushing, pusat penyimpanan komersial terbesar AS, turun ke sekitar 20 juta barel, level yang dianggap trader sebagai batas minimum operasional. Kondisi ini menunjukkan pasar masih menghadapi ketatnya pasokan fisik meski ekspektasi pasokan ke depan membaik.
Pada pukul 08.15 waktu Singapura, Brent kontrak Agustus turun 1% ke $78,75 per barel, sementara WTI kontrak Juli melemah 1,2% ke $75,86 per barel. Fokus pasar berikutnya tertuju pada kecepatan pembukaan Hormuz, pencabutan sanksi terhadap ekspor Iran, respons industri pelayaran, dan data persediaan minyak AS.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id