Trump Tegaskan Kesepakatan Iran Belum Final
Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan damai awal antara AS dan Iran belum bersifat final, meski rencana penandatanganan tetap dijadwalkan pada Jumat di Swiss. Pernyataan itu muncul saat Trump menjelaskan kerangka kesepakatan kepada para pemimpin G7 dalam KTT di Evian-les-Bains, Prancis.
Trump menyebut dokumen tersebut masih berupa memorandum of understanding. Ia memperingatkan bahwa AS dapat kembali melakukan serangan jika Iran tidak memenuhi komitmen dalam kesepakatan. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa proses diplomasi masih rapuh dan sangat bergantung pada implementasi di tahap berikutnya.
Rincian kesepakatan masih terus muncul, tetapi teks lengkap belum dirilis. Menurut sejumlah laporan media, kerangka 14 poin AS-Iran mencakup gencatan senjata permanen, termasuk di Lebanon, pencabutan blokade laut AS, serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Kesepakatan itu juga akan membuka jalan bagi negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Iran setelah seremoni penandatanganan.
Salah satu ketentuan utama dalam draf mencakup waiver segera untuk ekspor minyak dan petrokimia Iran setelah penandatanganan. Insentif lain termasuk kemungkinan pencairan aset Iran yang dibekukan dan rencana rekonstruksi regional sekitar $300 miliar. Sebagai imbalannya, Teheran disebut akan menyetujui komitmen untuk tidak mengejar senjata nuklir dan menetralkan material nuklirnya.
Namun, keringanan finansial untuk Iran tampaknya tetap dikaitkan dengan kepatuhan Teheran terhadap tuntutan AS, termasuk penghapusan stok uranium yang diperkaya dan pembatasan ambisi nuklir yang lebih luas. Trump juga mengatakan pengaturan tersebut tidak mencakup pelonggaran sanksi secara langsung, meski membuka ruang pembahasan lebih lanjut.
Bagi pasar energi, fokus utama tetap berada pada Selat Hormuz. Brent sempat turun di bawah $80 per barel pada Selasa untuk pertama kali sejak Maret, sebelum stabil setelah penurunan beberapa hari. Penurunan minyak mencerminkan ekspektasi bahwa pembukaan Hormuz dan kembalinya pasokan Iran dapat meredakan tekanan pasokan global.
Meski demikian, pemulihan arus energi tidak otomatis terjadi setelah penandatanganan. Pasukan AS masih mencari ranjau yang ditanam Iran di selat tersebut, sementara perusahaan pelayaran tetap berhati-hati mengirim kapal melalui jalur tersebut. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati Hormuz, sehingga gangguan teknis atau keamanan tetap memiliki dampak besar terhadap rantai pasok energi.
Transmisi pasar dari kesepakatan ini berada pada jalur pasokan energi, inflasi, dan ekspektasi suku bunga. Jika Hormuz kembali berfungsi normal, harga energi dapat lebih terkendali dan tekanan inflasi global bisa mereda. Namun, jika detail kesepakatan berubah, implementasi tertunda, atau ketegangan kembali meningkat, premi risiko minyak dapat kembali naik.
Para pemimpin G7 juga memberi sinyal akan mendorong diversifikasi pasokan energi untuk mengurangi ketergantungan pada arus melalui Selat Hormuz. Fokus pasar berikutnya tertuju pada rilis teks lengkap memorandum, mekanisme pembukaan Hormuz, kepatuhan Iran terhadap syarat nuklir, dan respons perusahaan pelayaran terhadap kondisi keamanan jalur tersebut.(arl)
Sumber: Newsmaker.id