Premi Perang Susut, Oil Melemah Tajam
Harga minyak turun tajam pada Senin (15/6) setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung berbulan-bulan. Kesepakatan ini membuka peluang Selat Hormuz kembali beroperasi penuh, sehingga meredakan kekhawatiran gangguan pasokan yang sebelumnya mengguncang pasar energi global.
Brent sempat turun 5,3% ke bawah US$83/barel, setelah pekan lalu ditutup di level terendah tiga bulan. WTI juga sempat melemah ke bawah US$80/barel. Presiden Donald Trump mengatakan AS mengizinkan pembukaan Hormuz dan mengakhiri blokade terhadap Iran, dengan selat tersebut dijadwalkan kembali dibuka setelah kesepakatan ditandatangani pada Jumat.
Iran juga mengonfirmasi adanya kesepakatan melalui Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi, meski teks resmi baru akan dipublikasikan setelah acara penandatanganan di Swiss. Kesepakatan ini menjadi tahap awal menuju 60 hari negosiasi mengenai program nuklir Iran, sehingga pasar masih menilai risiko implementasi belum sepenuhnya hilang.
Secara fundamental, penurunan minyak mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik. Jika Hormuz kembali dibuka dan arus minyak Teluk Persia pulih, tekanan pasokan dapat mereda. Dampaknya bisa menurunkan risiko inflasi energi dan memberi ruang bagi bank sentral, termasuk The Fed, untuk tidak terlalu agresif dalam mempertahankan kebijakan ketat.
Namun, pembukaan penuh Hormuz masih menghadapi beberapa hambatan. Proses pembersihan ranjau, kejelasan kontrol Iran terhadap kapal yang melintas, serta potensi restart produksi dari ladang Teluk Persia masih membutuhkan waktu. Produsen juga memperingatkan bahwa pemulihan pasokan penuh dapat memakan waktu berbulan-bulan karena tantangan teknis, geologis, dan kerusakan infrastruktur.
Di pasar futures, spread kontrak terdekat Brent menyempit menjadi kurang dari US$1/barel dalam backwardation, turun jauh dari lebih dari US$12 pada April. Ini menunjukkan pasar mulai menilai ketatnya pasokan berkurang, meski struktur harga masih belum sepenuhnya berubah menjadi bearish. Fokus berikutnya adalah penandatanganan deal, pembukaan fisik Hormuz, arus ekspor Teluk Persia, dan arah harga minyak setelah premi perang mulai keluar dari pasar. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id