Trump Ubah Nada, Minyak Berbalik Turun
Harga minyak melemah pada Selasa (19/5) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia membatalkan rencana serangan terhadap Iran yang semula dijadwalkan hari ini, menyusul permintaan dari sekutu Teluk Persia. Pernyataan tersebut meredakan sebagian premi risiko, meski pasar menilai ketidakpastian konflik dan Selat Hormuz belum hilang.
Pada 10:13 a.m. waktu London, Brent kontrak Juli turun 1,5% menjadi US$110,43 per barel, setelah naik 2,6% pada Senin. WTI kontrak Juli melemah 1% ke US$103,36 per barel, sementara kontrak Juni yang lebih sepi akan berakhir pada Selasa.
Trump menyatakan lewat unggahan media sosial bahwa pemimpin Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab meminta AS menahan serangan karena “negosiasi serius” sedang berlangsung. Namun Trump juga menegaskan AS tetap siap menyerang bila kesepakatan yang dapat diterima tidak tercapai, tanpa menetapkan tenggat waktu.
Meski penundaan ini menurunkan risiko eskalasi langsung, minyak tetap sensitif karena pasar masih menimbang kemungkinan penutupan efektif Selat Hormuz menahan pasokan Teluk lebih lama. Selain itu, Teheran belum segera mengonfirmasi pembicaraan baru, sehingga arah diplomasi tetap sulit dibaca.
Dari sisi pasokan, blokade angkatan laut AS membuat terminal ekspor utama Iran di Pulau Kharg menganggur setidaknya 10 hari, memotong pendapatan minyak Iran dan menarik jutaan barel dari pasar. Kondisi ini berbalik dari fase awal perang saat Iran sempat menjadi eksportir dominan di selat setelah membatasi kapal negara lain.
Di luar Iran, AS juga mengeluarkan waiver baru yang mengizinkan penjualan minyak mentah Rusia dan produk minyak yang sudah terlanjur dimuat di tanker, beberapa hari setelah waiver sebelumnya kedaluwarsa. Pasar kini menunggu apakah negosiasi benar-benar bergerak, serta apakah arus fisik dan keamanan pelayaran di sekitar Hormuz membaik—dua faktor yang akan menentukan apakah koreksi minyak berlanjut atau volatilitas kembali naik. (arl)*
Sumber: Newsmaker.id