Dolar Bertahan di Puncak, Risiko Inflasi Dorong Ekspektasi Suku Bunga
Indeks dolar AS bertahan di sekitar 99,4 pada Rabu (20/5), diperdagangkan dekat level tertinggi enam minggu. Penguatan ini terjadi saat pasar kembali menempatkan risiko inflasi sebagai tema utama, seiring eskalasi tensi AS–Iran.
Presiden Donald Trump mengatakan AS bisa melanjutkan serangan terhadap Iran dalam “dua atau tiga hari” bila Teheran tidak menerima syarat damai Washington. Konflik yang berlarut disebut efektif menjaga Selat Hormuz tetap tertutup bagi lalu lintas pelayaran, mendorong harga minyak lebih tinggi dan memperkuat tekanan inflasi global.
Kenaikan risiko inflasi menggeser persepsi pasar dari ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini menuju spekulasi bahwa bank sentral justru dapat menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Dalam kerangka fundamental, inflasi yang lebih tinggi cenderung memperkuat ekspektasi kebijakan ketat, yang pada gilirannya menopang dolar.
Dari sisi komentar pejabat, Presiden Philadelphia Fed Anna Paulson menyatakan mendukung mempertahankan suku bunga tetap, dan menekankan bahwa pemangkasan suku bunga akan bergantung pada kemajuan yang berkelanjutan untuk menurunkan inflasi. Pernyataan ini memperkuat sinyal “wait-and-see” di tengah perubahan ekspektasi pasar.
Ke depan, arah dolar akan sangat ditentukan oleh apakah risiko inflasi dari energi terus bertahan dan mengubah ekspektasi kebijakan. Variabel yang dipantau pasar adalah perkembangan tensi AS–Iran, status Selat Hormuz, dinamika inflasi yang dipicu energi, serta konsistensi pesan pejabat The Fed terkait syarat penurunan inflasi sebelum membuka ruang pemangkasan.(asd)
Sumber: Newsmaker.id