Minyak Turun Ditengah Prospek di Bukanya Hormuz
Harga minyak memperpanjang pelemahan pada Kamis (7/5), turun lebih dari 2% seiring kembali menguatnya harapan tercapainya kesepakatan damai yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz secara bertahap.
Minyak Brent turun US$2,16 atau 2,13% ke US$99,11 per barel pada 07.32 GMT, sementara WTI melemah US$2 atau 2,1% ke US$93,08.
Penurunan ini datang setelah kedua acuan sudah merosot lebih dari 7% pada Rabu, menyentuh level terendah dua pekan di tengah optimisme bahwa konflik Timur Tengah bisa mereda. Pasar terlihat cepat memangkas premi risiko geopolitik yang sebelumnya menahan pasokan dan menaikkan kekhawatiran gangguan pengiriman energi.
Sentimen juga dipengaruhi laporan Al Arabiya yang menyebut telah ada “pemahaman” untuk melonggarkan blokade AS atas pelabuhan Iran sebagai imbalan pembukaan bertahap Selat Hormuz, meski laporan itu belum dapat diverifikasi. Di saat yang sama, Iran menyatakan sedang meninjau proposal damai AS yang, menurut sumber, akan mengakhiri perang secara formal namun masih menyisakan tuntutan kunci AS terkait program nuklir Iran dan pembukaan Selat Hormuz.
Bagi pasar, tarik-menarik “diplomasi vs disrupsi” membuat harga bergerak sangat sensitif terhadap headline. Jika kesepakatan benar-benar terwujud, premi geopolitik berpotensi cepat hilang dari harga dan menekan minyak; namun risiko berbalik tetap tinggi bila muncul kembali serangan terhadap infrastruktur energi atau eskalasi kawasan yang menghidupkan kembali kekhawatiran pasokan.
Ke depan, perhatian investor tertuju pada perkembangan negosiasi hingga pertemuan puncak AS–China pekan depan, termasuk pembahasan soal Hormuz, serta setiap sinyal resmi dari pihak-pihak terkait. Variabel yang dipantau pasar tetap sama: kejelasan status Selat Hormuz, keamanan infrastruktur energi di kawasan, dan konsistensi komunikasi diplomatik yang menentukan apakah pelemahan ini berlanjut atau berbalik.(yds)
Sumber: Newsmaker.id