Minyak dan Gas Naik, Penyitaan Kapal Iran Angkat Lagi Premi Risiko Hormuz
Harga minyak dan gas menguat setelah Angkatan Laut AS menyita kapal Iran, memicu kembali ketegangan yang mengganggu kontrol pelayaran di Selat Hormuz. Brent diperdagangkan di sekitar $95 per barel, memulihkan kira-kira setengah penurunan pada Jumat, sementara gas Eropa naik sekitar 3%.
Iran kembali menutup titik sempit tersebut pada Sabtu, dengan alasan blokade AS terhadap kapal terkait Iran melanggar kesepakatan gencatan senjata yang berakhir Selasa. Di saat yang sama, ketegangan ini membuat Iran ragu mengirim diplomat untuk putaran kedua pembicaraan damai di Pakistan, meski disebut tengah meninjau proposal AS.
Pasar melihat kendala pasokan berpotensi bertahan lebih lama karena hambatan bukan hanya bersifat headline, tetapi juga fisik. Analis menyoroti arus minyak masih tertahan akibat gangguan aliran, waktu pelayaran yang lebih panjang, serta biaya freight dan asuransi yang meningkat, sehingga menjaga harga tetap sensitif terhadap perkembangan di jalur pelayaran.
Risiko sistemiknya besar karena Hormuz sebelumnya menjadi koridor sekitar seperlima arus minyak dan LNG global sebelum perang AS-Israel melawan Iran pecah akhir Februari. Lalu lintas komersial pada Senin dilaporkan nyaris berhenti, mempertegas bagaimana gangguan di selat ini cepat diterjemahkan pasar sebagai krisis pasokan energi dan komoditas.
Konsekuensi makronya mengarah ke kombinasi yang tidak nyaman: kejutan pasokan energi dapat mendorong tekanan inflasi sekaligus membebani pertumbuhan, membuka ruang kekhawatiran stagflasi. Menjelang tenggat gencatan senjata, pasar cenderung mempertahankan risk premium, tetapi belum sepenuhnya “mengunci” skenario terburuk, sehingga harga berpotensi bergerak naik-turun tajam mengikuti arus berita. (gn)*
Sumber: Newsmaker.id