Minyak Anjlok hingga 9% Usai Iran Nyatakan Hormuz Dibuka, Premi Risiko Mulai Pudar
Harga minyak ditutup melemah tajam pada Jumat (17/4) setelah Iran menyatakan jalur Selat Hormuz dibuka untuk seluruh kapal komersial selama sisa periode gencatan senjata, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran telah setuju untuk tidak pernah menutup selat itu lagi. Pasar merespons dengan cepat melalui pelepasan premi risiko geopolitik yang sempat tertanam dalam harga selama dua pekan terakhir.
Brent ditutup turun US$9,01 atau 9,07% ke US$90,38 per barel, setelah sempat menyentuh terendah sesi US$86,09. WTI jatuh US$10,48 atau 11,45% dan ditutup di US$83,85 per barel, usai sempat turun ke US$80,56. Kedua kontrak mencatat penurunan harian terbesar sejak 8 April.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa semua kapal bisa melintas Hormuz, namun harus dikoordinasikan dengan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pejabat itu juga menyebut pencairan dana Iran menjadi bagian dari kesepakatan. Data pelacakan kapal menunjukkan sekitar 20 kapal bergerak dari Teluk menuju pintu keluar melalui Selat Hormuz, mengindikasikan aktivitas pelayaran mulai pulih.
Menurut analis Gelber & Associates, pasar sedang “cepat” menghapus premi risiko ekstrem dan kembali mem-price in normalisasi arus fisik ketimbang risiko disrupsi. Sejalan dengan itu, seorang reporter Axios melaporkan di X bahwa AS dan Iran membuat kemajuan dalam negosiasi memorandum of understanding tiga halaman untuk mengakhiri perang.
Trump juga mengatakan dalam wawancara telepon dengan Reuters bahwa AS akan masuk ke Iran dengan “tempo santai” untuk mengambil kembali uranium yang diperkaya dan membawanya ke AS. Di sisi diplomasi, harapan pasar turut didukung prospek pembicaraan lanjutan AS–Iran pada akhir pekan dan gencatan senjata 10 hari Israel–Lebanon, yang memperkuat persepsi bahwa konflik Timur Tengah mendekati fase de-eskalasi. Trump menambahkan Iran menawarkan komitmen untuk tidak memiliki senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun, sebagai salah satu isu yang menjadi titik negosiasi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id