Tarif AS Mengintai, Dolar Turun, Minyak Menguat Tipis
Harga minyak bergerak naik tipis pada Selasa (20/1) saat investor memantau ancaman tarif Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara Eropa yang menolak dorongannya untuk “mengakuisisi” Greenland. Di saat yang sama, harapan pertumbuhan ekonomi global yang lebih kuat dan pelemahan dolar AS ikut menahan harga minyak agar tidak turun.
Kontrak Brent naik 49 sen (0,77%) ke $64,43/barel pada 12:53 GMT, sementara WTI menguat 56 sen (0,94%) ke $60/barel. Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran perang dagang baru, setelah Trump mengancam tarif tambahan 10% mulai 1 Februari untuk impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris—dan bisa naik menjadi 25% mulai 1 Juni jika tak ada kesepakatan soal Greenland.
Meski headline politiknya keras, analis menilai dampak tarif ini tidak langsung mengubah keseimbangan pasokan-permintaan minyak dalam waktu dekat. Harga juga mendapat dukungan dari revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF, ditambah harga diesel yang lebih kuat—dua hal yang biasanya memberi napas untuk sektor energi.
Dari sisi Asia, data China ikut jadi penyangga sentimen. PDB kuartal IV China dinilai lebih baik dari perkiraan, sementara data menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0% tahun lalu. Aktivitas kilang pada 2025 juga naik 4,1% (yoy) dan produksi minyak mentah tumbuh 1,5%, yang membuat pasar berharap permintaan energi tetap solid dari importir minyak terbesar dunia.
Ditambah lagi, dolar AS yang melemah membuat minyak (berdenominasi dolar) terasa lebih murah bagi pembeli di mata uang lain—jadi support tambahan buat harga.(yds)
Sumber: Newsmaker.id