Minyak Rebound 1% Lebih Setelah “Blokade” Venezuela
Harga minyak melonjak lebih dari 1% pada Rabu (17/12) setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade terhadap semua kapal tanker minyak yang berada di bawah sanksi yang masuk dan keluar Venezuela. Langkah ini meningkatkan ketegangan politik global dan meredakan kekhawatiran pasar tentang membengkaknya surplus minyak mentah dunia.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup pada $59,68 per barel, naik 76 sen atau 1,3%. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada $55,94 per barel, naik 67 sen atau 1,2%.
Namun, kenaikan harga minyak tertahan oleh meningkatnya persediaan bahan bakar di AS.
Pada sesi sebelumnya, harga minyak ditutup dekat level terendah lima tahun setelah muncul tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan damai Rusia–Ukraina. Kesepakatan damai dapat membuat sanksi Barat terhadap Moskow dilonggarkan, sehingga pasokan berpotensi bertambah di tengah pasar yang sedang bergulat dengan permintaan global yang rapuh.
Pada Selasa, Trump memerintahkan blokade terhadap semua kapal tanker minyak bersanksi yang masuk dan keluar Venezuela, seraya menyebut pemerintahan Presiden Nicolas Maduro sebagai organisasi teroris asing. Pemerintah Venezuela menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka menolak “ancaman menjijikkan” dari Trump.
Trump menyampaikan komentar soal blokade itu sepekan setelah AS menyita sebuah kapal tanker minyak bersanksi di lepas pantai Venezuela.
PERTANYAAN TENTANG BAGAIMANA BLOKADE AKAN DITERAPKAN
Masih belum jelas berapa banyak kapal tanker yang akan terdampak dan bagaimana AS akan menerapkan blokade tersebut, termasuk apakah Trump akan melibatkan Penjaga Pantai AS untuk mencegat kapal-kapal, seperti yang dilakukan pekan lalu. Dalam beberapa bulan terakhir, AS juga telah memindahkan kapal perang ke kawasan tersebut.
Sejumlah pakar energi meragukan bahwa tindakan terbaru Trump akan memberikan dampak berarti terhadap pasokan minyak mentah global.
“Meski tindakan AS dapat menambah ‘noise’ jangka pendek dan premi risiko yang kecil, langkah itu tidak cukup dengan sendirinya untuk mengetatkan keseimbangan pasokan-permintaan global atau mendorong reli harga minyak yang berkelanjutan,” kata analis energi Kpler dalam sebuah catatan.
Walaupun banyak kapal yang mengangkut minyak dari Venezuela berada di bawah sanksi, ada juga kapal lain yang mengangkut minyak dan crude Venezuela melalui Iran dan Rusia yang tidak terkena sanksi. Kapal-kapal tanker yang disewa Chevron juga mengangkut minyak mentah Venezuela ke AS berdasarkan otorisasi yang sebelumnya diberikan oleh Washington.
China adalah pembeli terbesar minyak mentah Venezuela, yang menyumbang sekitar 1% dari pasokan global.
Menambah ketidakpastian terhadap produksi energi Venezuela, perusahaan minyak milik negara PDVSA pada Rabu mengatakan mereka kembali melanjutkan pengiriman kargo minyak dari terminal-terminalnya setelah serangan siber yang memengaruhi sistem administrasi terpusat mereka.
Setidaknya dua kapal tanker yang membawa produk turunan minyak, termasuk metanol dan petroleum coke, berangkat dari pelabuhan terbesar Venezuela, Jose, menurut data pelacakan kapal dan dokumen internal dari PDVSA.
AS belum menargetkan ekspor produk turunan minyak atau petrokimia sejak pertama kali memberlakukan sanksi energi terhadap Venezuela pada 2019.
PERSEDIAAN MENINGKAT
Naiknya persediaan bensin dan distilat di AS mengurangi tenaga kenaikan harga minyak mentah. Meskipun persediaan minyak mentah turun pekan lalu, stok bensin dan distilat meningkat lebih besar dari perkiraan, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA).
EIA menyebut persediaan minyak mentah turun 1,3 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Desember, dibandingkan perkiraan analis dalam survei Reuters yang memperkirakan penurunan 1,1 juta barel.
Sementara itu, stok bensin AS bertambah 4,8 juta barel dalam sepekan menjadi 225,6 juta barel, menurut EIA, dibandingkan perkiraan analis dalam survei Reuters yang memperkirakan kenaikan 2,1 juta barel.
Persediaan distilat—yang mencakup diesel dan minyak pemanas—naik 1,7 juta barel dalam sepekan menjadi 118,5 juta barel, lebih tinggi dari perkiraan kenaikan 1,2 juta barel, menurut data EIA.(yds)
Sumber: Reuters.com