Yen Lemah, BoJ Siapkan Sinyal Hawkish
Bank of Japan mulai membuka peluang menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan mayoritas ekonom. Sikap ini muncul karena pelemahan yen yang berlanjut dinilai dapat menambah risiko inflasi di Jepang.
BoJ masih diperkirakan akan mempertahankan kebijakan suku bunga pada rapat 31 Juli. Namun, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga acuan ke 1%, level tertinggi dalam 31 tahun, pasar mulai menilai bank sentral Jepang bisa kembali bergerak lebih cepat dari ekspektasi.
Sejumlah pejabat BoJ disebut tidak ingin terpaku pada pola kenaikan bunga setiap enam bulan. Mereka siap bertindak lebih awal jika tekanan inflasi meningkat, terutama karena inflasi inti Jepang kini semakin dekat dengan target 2% yang telah lama dikejar bank sentral.
Yen sempat melemah ke level terendah dalam sekitar empat dekade terhadap dolar AS sebelum menguat tipis ke 162,69 per dolar. Pelemahan yen membuat pemerintah Jepang kembali memberi sinyal kewaspadaan terhadap kemungkinan tindakan di pasar valuta asing.
Selain yen, pasar obligasi Jepang juga ikut bereaksi. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 2 tahun naik ke level tertinggi sejak 1995, sementara yield 5 tahun bergerak mendekati 2%. Ini menunjukkan investor mulai mengantisipasi jalur suku bunga BoJ yang lebih agresif.
Dampaknya ke market, peluang kenaikan bunga BoJ yang lebih cepat dapat memberi dukungan bagi yen dan menekan USD/JPY jika ekspektasi pasar semakin kuat. Namun, jika dolar AS tetap ditopang yield Treasury tinggi dan risiko geopolitik, penguatan yen bisa terbatas. Untuk emas, kenaikan suku bunga Jepang dapat menambah tekanan bagi aset non-yielding, tetapi efeknya masih akan kalah besar dibanding arah The Fed, dolar AS, dan konflik Timur Tengah.(arl)
Sumber : Newsmaker.id