Iran Terima Usulan Damai, Tekanan Tenggat Hormuz Masih Membayangi
Iran mengakui telah menerima proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat melalui Pakistan, dan menyatakan dokumen tersebut sedang ditinjau. Namun, Teheran menegaskan tidak akan menerima keputusan yang dipaksakan lewat tekanan maupun tenggat waktu.
Rancangan yang beredar menyebut Pakistan menyusun kerangka dua tahap: gencatan segera sebagai pintu masuk, lalu negosiasi menuju kesepakatan lebih komprehensif. Dalam skema itu, pembukaan kembali Selat Hormuz disebut menjadi salah satu elemen awal, dengan waktu sekitar 15–20 hari untuk memfinalkan penyelesaian yang lebih luas, dan opsi pembahasan lanjutan di Islamabad.
Meski demikian, sumber Reuters juga mengutip sikap Iran yang menolak membuka Selat Hormuz sebagai bagian dari gencatan sementara, sembari mempertanyakan kesiapan AS untuk menerima gencatan yang benar-benar permanen. Iran sebelumnya menyampaikan bahwa mereka menginginkan gencatan permanen yang disertai jaminan tidak ada serangan lanjutan dari AS dan Israel.
Dorongan diplomasi ini muncul di tengah eskalasi yang masih berjalan dan tekanan publik dari Presiden AS Donald Trump, termasuk ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran bila kesepakatan tidak tercapai dan Selat Hormuz tidak dibuka. Kondisi ini menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi karena Hormuz merupakan jalur penting arus minyak dan gas global, sehingga setiap perubahan status pelayaran cepat memengaruhi volatilitas pasar energi.
Untuk pasar, arah berikutnya sangat bergantung pada konfirmasi resmi dari Washington dan Teheran, detail mekanisme gencatan (apakah langsung berlaku atau bertahap), serta indikator nyata terkait akses pelayaran di Hormuz. Investor juga akan memantau apakah pembahasan memasukkan isu-isu kunci seperti jaminan keamanan, sanksi, aset beku, dan komitmen nuklir karena paket inilah yang akan menentukan apakah premi risiko minyak mereda atau kembali meningkat.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id