Trump bilang ekonomi AS “super-high growth.” Benarkah?
Presiden Donald Trump berbicara di Detroit Economic Club pada hari Selasa (13/4)
Presiden Donald Trump memuji apa yang ia sebut sebagai “pertumbuhan super-tinggi” ketika memaparkan berbagai pencapaian ekonomi dalam pidato berdurasi sekitar satu jam di Detroit pada Selasa.
Dalam sindiran kepada pendahulunya di Gedung Putih, Trump mengatakan mantan Presiden Joe Biden meninggalkan AS dengan “bencana stagflasi yang sangat besar,” dan ia mengklaim situasi itu kini sudah berlalu.
“Kami dengan cepat mencapai kebalikan dari stagflasi—hampir tidak ada inflasi dengan pertumbuhan super-tinggi,” kata Trump kepada Detroit Economic Club.
Apa kata data?
Ekonomi memang berkembang lebih cepat dari perkiraan, tetapi AS belum mencapai “pertumbuhan super-tinggi” dan inflasi juga belum menghilang.
Produk domestik bruto (PDB)—tolok ukur resmi kinerja ekonomi—turun pada kuartal pertama 2025 untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Setelah itu, PDB kembali naik dengan pertumbuhan kuat sebesar 3,8% pada kuartal kedua dan 4,3% pada kuartal ketiga.
Namun, sebagian pertumbuhan tersebut “terlihat lebih tinggi” karena bisnis dan konsumen meningkatkan pembelian impor lebih awal pada tahun ini untuk mengantisipasi kenaikan harga terkait tarif.
Bagaimanapun, PDB juga tumbuh mendekati 3% per tahun pada dua tahun terakhir masa jabatan Biden. Jadi, rekam jejak pertumbuhan ekonomi di era Biden dan Trump bisa dibilang sebanding.
Sementara itu, laju inflasi sebenarnya sudah melambat tajam sebelum Trump menjabat. Inflasi turun menjadi 3% pada Januari 2025 dari puncak tertinggi 41 tahun sebesar 9,1% pada 2022.
Sejak itu, inflasi cenderung “nyangkut” di kisaran 3%, sehingga masih jauh di atas target 2% milik Federal Reserve.
Berbicara setelah rilis data inflasi terbaru pada Selasa pagi, Trump juga kembali menegaskan tuntutannya soal calon ketua Federal Reserve, dengan mengatakan ia ingin pilihannya menurunkan suku bunga ketika pasar saham sedang “bagus.”
Trump, yang sedang mempertimbangkan siapa yang akan ia nominasi untuk memimpin bank sentral AS setelah masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell berakhir pada Mei, mengatakan dalam pidatonya: “Saya ingin seseorang yang ketika pasar sedang bagus, suku bunga bisa turun karena negara kita menjadi lebih kuat.”
Trump sudah sering menyerukan suku bunga lebih rendah dan kembali melakukannya pada Selasa pagi lewat unggahan di Truth Social.
Saham AS (SPX) turun pada Selasa sore, tertekan oleh saham JPMorgan dan Visa. Trump juga menyerukan agar perusahaan kartu kredit membatasi suku bunga, meski usulan tersebut mendapat sambutan dingin dari para petinggi Partai Republik di Capitol Hill.
Pernyataan terbaru Trump soal The Fed dan suku bunga muncul saat banyak anggota parlemen, bank sentral, dan kreator media sosial memberikan dukungan kepada Powell, menyusul ancaman Departemen Kehakiman untuk mengejar dakwaan pidana terkait kesaksian Powell di Kongres mengenai renovasi gedung Federal Reserve.(yds)
Sumber: MarketWatch