AS Minta Warganya Segera Tinggalkan Timur Tengah!
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan peringatan keras kepada Iran, menegaskan bahwa serangan AS bisa meningkat lebih besar dalam waktu dekat. Sejumlah laporan media menyebut Trump menggambarkan “gelombang besar” serangan sebagai sesuatu yang “belum datang”, menandakan eskalasi belum selesai.
Sejalan dengan nada peringatan itu, pemerintah AS melalui Departemen Luar Negeri (State Department) mengeluarkan imbauan agar warga negara Amerika segera meninggalkan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah karena “risiko keamanan yang serius”. Peringatan ini muncul di tengah memburuknya situasi setelah rangkaian serangan dan balasan yang membuat kawasan semakin tidak pasti.
Menurut laporan Reuters, imbauan tersebut mencakup lebih dari selusin negara di antaranya Iran, Irak, Israel, Yordania, Lebanon, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Langkah ini menegaskan bahwa Washington menilai ancaman terhadap warga AS di kawasan meningkat, baik karena potensi serangan lanjutan maupun dampak rambatan konflik.
Di beberapa titik, langkah pengamanan juga menyentuh aktivitas kedutaan. Salah satu contoh yang dilaporkan adalah evakuasi sementara personel Kedutaan Besar AS di Amman, Yordania, sebagai tindakan pencegahan terkait ancaman yang tidak dirinci. Situasi ini memperkuat sinyal bahwa risiko keamanan dinilai nyata, bukan sekadar peringatan administratif.
Di sisi lain, eskalasi konflik membuat pasar global kembali waspada, terutama karena kawasan ini memegang jalur energi dan logistik yang krusial. Reuters menyoroti bahwa ketegangan juga memicu kekhawatiran gangguan pengiriman energi—termasuk ancaman terhadap Selat Hormuz yang dapat menambah tekanan pada harga minyak dan mendorong volatilitas aset safe haven.
Ke depan, fokus utama pasar dan diplomasi tertuju pada dua hal: apakah serangan benar-benar meningkat seperti yang disiratkan Trump, dan bagaimana respons Iran serta negara-negara kawasan. Selama sinyal eskalasi dan peringatan evakuasi masih berjalan, pelaku pasar cenderung defensif mengantisipasi lonjakan risiko geopolitik yang dapat menyebar ke energi, mata uang, dan sentimen global.(asd)
Sumber: Newsmaker.id