Minyak Menguat Saat Risiko AS-Iran Naik, Jalur Negosiasi Tetap Ada
Harga minyak naik pada Rabu (3 Juni) ketika pasar menimbang arah pembicaraan AS-Iran di tengah serangan baru dari kedua pihak pada Selasa. Kontrak WTI Juli sebelumnya naik lebih dari 2,1% ke US$95,76, sementara Brent Agustus menguat hampir 2% ke US$97,86 per barel.
Penguatan berlanjut pada pembaruan harga berikutnya: Brent berada di US$98,38 (naik 2,68%) dan WTI di US$98,42 (naik 3,08%). Pergerakan ini mencerminkan premi risiko geopolitik yang kembali naik di pasar energi.
Pemicu utamanya adalah eskalasi tensi di Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah mencegat sejumlah rudal balistik dan drone Iran, lalu meluncurkan serangan defensif setelah adanya “upaya” serangan dari Iran, yang dipandang pasar sebagai peningkatan risiko regional.
Namun, narasi risiko tersebut sebagian diimbangi oleh sinyal diplomasi. Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan Washington masih terlibat dalam pembicaraan dengan Teheran mengenai potensi kesepakatan untuk mengakhiri konflik, meredam spekulasi bahwa jalur komunikasi benar-benar macet.
Rubio juga menyampaikan kepada Senate Foreign Relations Committee bahwa dalam diskusi tersebut terdapat “prospek” Iran dapat menegosiasikan sejumlah aspek program nuklirnya. Pernyataan ini berseberangan dengan laporan media Iran yang menyebut komunikasi kedua pihak sempat terhenti, sehingga menambah ketidakpastian arah negosiasi.
Bagi pasar, kombinasi serangan lanjutan dan diplomasi yang belum memberikan kepastian menjaga volatilitas harga minyak tetap tinggi. Fokus berikutnya tertuju pada intensitas serangan, sinyal konkret dari jalur perundingan, dan apakah risiko kawasan berlanjut menjadi gangguan yang lebih luas bagi ekspektasi pasokan serta sentimen risiko global.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id