AS: Perang Iran Bukan “Tanpa Akhir”
Amerika Serikat menegaskan konflik dengan Iran tidak akan berubah menjadi perang “tanpa akhir”, meski serangan udara memasuki hari ketiga dan dampaknya kian meluas ke kawasan Timur Tengah serta mengguncang pasar energi. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menolak gagasan perang berkepanjangan, menyebut operasi ini sebagai misi yang “jelas, menghancurkan, dan menentukan”.
Dalam konferensi pers di Pentagon, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine mengatakan militer AS telah membangun “superioritas udara lokal”. Presiden Donald Trump juga menyatakan operasi berjalan “sedikit lebih cepat dari jadwal”, meski sebelumnya ia memperkirakan kampanye dapat berlangsung sekitar empat minggu—dan ia mengisyaratkan gelombang serangan besar masih akan datang.
Iran terus meluncurkan rudal ke sejumlah negara di Timur Tengah sebagai respons atas serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada akhir pekan. Ledakan dilaporkan terdengar di beberapa wilayah, sementara gangguan meluas ke sektor transportasi dan energi: harga minyak melonjak tajam, maskapai menangguhkan penerbangan, dan operasional bandara-bandar udara tersibuk di dunia ikut terdampak.
Dari sisi militer, AS melaporkan korban di pihaknya. Central Command menyampaikan adanya korban jiwa dan luka serius di antara personel AS. AS juga melaporkan insiden jatuhnya jet tempur di Kuwait yang diduga terkait “friendly fire”. Sementara itu Israel memperluas operasi ke Beirut setelah menghadapi serangan dari Hezbollah di Lebanon selatan.
Di pasar energi, perhatian tertuju pada Selat Hormuz. Lalu lintas tanker disebut nyaris terhenti, memicu kekhawatiran terganggunya arus pasokan dari kawasan Teluk. Di saat yang sama, muncul laporan gangguan pada fasilitas energi: QatarEnergy menangguhkan produksi LNG di fasilitas ekspor terbesar dunia setelah serangan militer, sementara operasi di kilang terbesar Arab Saudi disebut ikut tertahan akibat serangan drone.
Di ranah diplomasi, sinyalnya campur aduk. Trump menyebut ia bersedia berbicara dengan kepemimpinan baru Iran, tetapi pejabat keamanan Iran Ali Larijani membantah bahwa Teheran akan bernegosiasi dengan AS. Iran kini berpacu menentukan pemimpin tertinggi baru; juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan harapannya penerus dapat dipilih dalam beberapa hari ke depan.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id