AS–Iran Memanas tapi Jalur Diplomasi Dibuka Lagi
Hubungan AS–Iran memasuki fase “tekan-tekanan sambil nego” sampai hari ini, Selasa 3 Februari 2026. Di satu sisi, Washington terus menunjukkan postur militer (kapal/pergerakan aset) sebagai sinyal tekanan. Di sisi lain, kanal diplomasi justru mulai dibuka lagi setelah kedua pihak saling kirim sinyal siap bicara.
Dari Washington, Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung meski tensi tinggi, bahkan ketika ia menyebut ada kapal-kapal besar AS bergerak ke arah kawasan Iran. Pesannya jelas: “kita ngobrol, tapi tetap pasang badan.”
Dari Teheran, Abbas Araqchi menyampaikan Iran siap untuk pembicaraan yang “adil”, namun memberi batas tegas: Iran tidak mau pembahasan menyentuh kemampuan pertahanan (yang biasanya mencakup rudal/dll.). Ini memberi gambaran: negosiasi mungkin jalan, tapi ruangnya sempit dan rawan deadlock.
Perkembangan paling konkret: Reuters melaporkan rencana pertemuan antara utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan Araqchi pada Jumat, 6 Februari 2026 di Istanbul untuk membahas kemungkinan kesepakatan nuklir. Ini jadi sinyal paling jelas bahwa komunikasi tidak cuma lewat “pesan perantara”, tapi mulai mengarah ke meja perundingan.
Di balik layar, Turkey disebut berupaya menjadi broker agar pertemuan bisa terjadi “pekan ini”. Sementara itu, tekanan tetap jalan: sanksi baru dari U.S. Department of the Treasury pada 30 Januari 2026 menargetkan pejabat Iran terkait represi dan korupsi, termasuk penunjukan pertama yang terkait jaringan aset digital IRGC.
Kesimpulannya buat pasar: kondisi saat ini masih rawan headline. Kalau pertemuan Istanbul berjalan dan ada “kerangka” pembicaraan, tensi bisa mereda cepat. Tapi kalau mentok (apalagi dibarengi manuver militer/sanksi tambahan), risiko eskalasi balik naik—dan biasanya langsung kebaca di minyak, emas, dan USD.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id