Kenapa Emas Tetap Turun Saat Minyak Melemah?
Pergerakan emas saat ini terlihat membingungkan bagi sebagian pelaku pasar. Sebelumnya, ketika harga minyak naik akibat perang AS-Iran, emas justru ikut turun karena pasar khawatir lonjakan energi akan memicu inflasi baru. Inflasi yang lebih tinggi membuat Federal Reserve berpeluang menaikkan suku bunga, sehingga dolar AS dan yield obligasi menguat. Dalam kondisi seperti itu, emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik.
Namun, ketika harga minyak sekarang turun tajam, emas ternyata belum otomatis menguat. Penyebabnya, penurunan minyak kali ini bukan dibaca sebagai sinyal pelemahan ekonomi semata, tetapi sebagai tanda meredanya risiko perang dan mulai pulihnya pasokan energi dari Timur Tengah. Artinya, kebutuhan investor untuk membeli emas sebagai aset safe haven ikut berkurang. Dengan kata lain, turunnya minyak memang meredakan inflasi energi, tetapi pada saat yang sama juga mengurangi alasan pasar untuk berlindung di emas.
Selain itu, tekanan utama emas saat ini bukan hanya berasal dari minyak, melainkan dari dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed. Dolar masih kuat karena pasar menilai The Fed tetap berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini. Selama ekspektasi tersebut bertahan, emas akan sulit bangkit kuat. Sebab, suku bunga tinggi membuat aset berbunga seperti obligasi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga.
Pertanyaan berikutnya, kenapa dolar tidak ikut turun saat harga minyak melemah? Jawabannya, karena dolar saat ini didukung oleh beberapa faktor sekaligus. Pertama, pasar masih melihat The Fed lebih hawkish dibandingkan bank sentral lain. Kedua, aksi jual saham teknologi global membuat investor mencari perlindungan di dolar. Ketiga, mata uang lain seperti euro, yen, dan dolar Australia juga sedang lemah karena masalah ekonomi masing-masing. Jadi, meskipun minyak turun, permintaan terhadap dolar tetap kuat.
Penurunan minyak bahkan bisa memberi efek campuran bagi dolar. Di satu sisi, minyak yang lebih murah dapat menurunkan tekanan inflasi dan seharusnya mengurangi kebutuhan The Fed untuk menaikkan suku bunga. Namun di sisi lain, selama inflasi inti masih tinggi dan ekonomi AS masih kuat, pasar belum berani sepenuhnya melepas dolar. Karena itu, dolar masih bertahan di level tinggi meskipun harga minyak sudah turun tajam.
Untuk emas bisa menguat dalam jangka pendek, pasar membutuhkan beberapa pemicu. Pertama, data inflasi PCE AS harus lebih rendah dari perkiraan, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed ikut turun. Kedua, dolar AS perlu melemah dari level tinggi saat ini. Ketiga, yield obligasi AS harus kembali turun lebih dalam. Jika tiga faktor ini terjadi bersamaan, emas punya peluang untuk rebound teknikal.
Selain itu, emas juga bisa mendapat dukungan jika arus jual ETF mulai mereda, pembelian bank sentral tetap kuat, atau terjadi kembali ketegangan geopolitik yang mendorong permintaan safe haven. Namun, untuk saat ini pasar masih melihat setiap kenaikan emas sebagai peluang jual selama harga belum mampu kembali stabil di atas area US$4.000 hingga US$4.050. Jika level tersebut berhasil direbut kembali, emas berpeluang menguji US$4.100 hingga US$4.150. Sebaliknya, jika gagal bertahan, tekanan bisa kembali mengarah ke US$3.950 hingga US$3.900.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id