Negosiasi di Bawah Ancaman, Begini Arah Market Selanjutntya!
Perundingan AS–Iran dijadwalkan berlangsung Sabtu, 11 April 2026 di Islamabad, Pakistan, sebagai putaran pertama setelah kesepakatan gencatan senjata dua pekan. Namun hingga Jumat, 10 April 2026 (WIB), jam mulai pembicaraan belum diumumkan secara resmi oleh pihak-pihak terkait; laporan hanya menyebut “Sabtu” tanpa rincian waktu. (Catatan zona waktu: Islamabad/PKT lebih lambat 2 jam dari WIB.)
Agenda paling mendesak diperkirakan berkisar pada akses Selat Hormuz dan mekanisme kepatuhan gencatan senjata. Washington menuduh Teheran belum menjalankan komitmen soal kelancaran arus minyak, sementara data awal pascagencatan menunjukkan arus kapal masih sangat terbatas dibanding kondisi normal pra-konflik. Di titik ini, pembicaraan cenderung menguji hal yang paling “terukur” terlebih dulu: seberapa cepat lalu lintas pelayaran bisa pulih, siapa yang mengamankan jalur, dan bagaimana mencegah insiden baru di laut.
Dari sisi Iran, basis posisi yang dibawa ke meja perundingan mengacu pada proposal 10 poin yang sudah dipublikasikan: Iran menuntut pengakuan atas hak pengayaan nuklir, pencabutan sanksi, serta “mengakhiri perang” termasuk yang menyasar Hezbollah di Lebanon. Pada saat yang sama, isu Hormuz tetap diperlakukan sebagai kartu tawar; laporan terpisah menyebut Iran akan membuka jalur itu secara terkendali dengan batas maksimal 15 kapal per hari. Kombinasi tuntutan nuklir, sanksi, dan cakupan Lebanon membuat negosiasi berpotensi panjang, karena bukan sekadar soal “buka-tutup” selat.
Untuk aktor yang terlibat, AS disebut akan diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran diperkirakan dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf. Pakistan bertindak sebagai tuan rumah sekaligus mediator, dengan peran politik-militer Islamabad menonjol karena pemerintah dan militer Pakistan ikut melakukan diplomasi intensif untuk menjaga proses tetap berjalan. Di luar tiga negara itu, Israel dan Lebanon menjadi variabel yang “mengganggu” karena perbedaan tafsir: AS dan Israel menilai ceasefire tidak mencakup Lebanon, sedangkan Iran (dan Pakistan) menyatakan sebaliknya.
Skenario dasar yang paling mungkin adalah hasil parsial: bukan “kesepakatan final”, melainkan paket langkah bertahap yang menukar pemulihan arus Hormuz (dari pembukaan terbatas menuju peningkatan kuota/koridor aman) dengan penundaan eskalasi dan dimulainya pembahasan teknis lanjutan soal nuklir dan sanksi. Skenario alternatifnya adalah perundingan berjalan, tetapi macet karena dua isu yang paling politis: (1) apakah Lebanon masuk cakupan penghentian tembak, dan (2) apakah AS bersedia memberi ruang pada tuntutan Iran terkait pengayaan dan sanksi. Indikator yang paling cepat terbaca dari hasil akhir biasanya tetap Hormuz: perubahan jumlah kapal yang benar-benar melintas dan stabilitas insiden di kawasan.
Dari sudut pandang Israel, sinyalnya cenderung “jalan sendiri” di Lebanon: pemerintah Israel menyatakan tetap fokus pada agenda melucuti Hezbollah dan mendorong pembicaraan langsung dengan Beirut, sekaligus menegaskan operasi di Lebanon tidak otomatis terikat kerangka ceasefire AS–Iran. Jika skenario dasar (hasil parsial dan Hormuz mulai lebih lancar) yang terjadi, oil berpotensi kehilangan sebagian premi risiko dan bergerak lebih tenang meski tetap volatil; gold cenderung stabil hingga melemah terbatas karena permintaan safe haven mereda; sementara dollar berisiko tetap lunak karena premi safe haven berkurang saat risk appetite membaik. Sebaliknya, bila pembicaraan macet dan Hormuz tetap tersendat, premi risiko bisa cepat kembali ke energi, menopang emas, dan mengangkat dolar.
5 Point Inti :
- Perundingan AS–Iran dijadwalkan Sabtu, 11 April 2026 di Islamabad, tapi jam mulai belum diumumkan resmi (Islamabad lebih lambat 2 jam dari WIB).
- Topik utama diperkirakan Hormuz: pembukaan jalur pelayaran, mekanisme keamanan/izin kapal, dan langkah pemulihan arus minyak.
- Isu besar lain: cakupan gencatan senjata (termasuk Lebanon atau tidak) serta paket nuklir–sanksi yang jadi tuntutan Iran.
- Pihak yang terlibat: AS dan Iran sebagai pihak utama, Pakistan sebagai tuan rumah/mediator; negara lain yang ikut memengaruhi dinamika adalah Israel (via posisi di Lebanon) dan aktor kawasan terkait jalur energi.
- Pasar menunggu hasil parsial vs deadlock: kesepakatan bertahap biasanya tercermin dari “bukti fisik” di Hormuz (jumlah kapal/kelancaran), sedangkan macetnya pembicaraan berisiko mengembalikan premi geopolitik.(asd)
Sumber: Newsmaker.id