Dolar Kesulitan Pulih saat Gencatan Senjata AS-Iran yang Rapuh Bikin Pasar Tetap Waspada
Pasar valuta asing bergerak dalam ketenangan yang rapuh pada Kamis (9/3), ketika pelaku pasar terus memantau apakah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran akan bertahan. Sehari sebelumnya, pengumuman ceasefire membuat dolar jatuh secara luas dan menempatkannya di jalur menuju kinerja mingguan terburuk sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Kesepakatan itu dinilai berada di ujung tanduk. Israel kembali mengebom target di Lebanon, sementara belum ada tanda Iran mencabut blokade Selat Hormuz—gangguan yang telah memicu disrupsi terbesar dalam sejarah pasokan energi global. Negosiator Iran dijadwalkan berangkat ke Pakistan pada Kamis untuk pembicaraan damai pertama sejak perang dimulai, namun Teheran menyatakan tidak akan ada kesepakatan selama Israel masih menyerang Lebanon.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan ia mengupayakan pembicaraan langsung dengan Beirut, dengan “fokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan pembentukan hubungan damai antara Israel dan Lebanon.” Di sisi lain, Presiden Donald Trump menegaskan seluruh kapal, pesawat, dan personel militer AS akan tetap berada di dalam dan sekitar Iran hingga Teheran sepenuhnya mematuhi kesepakatan.
Di pasar mata uang, euro naik 0,3% ke US$1,1698. Pada Rabu euro sempat naik 0,6% namun memangkas kenaikan di akhir sesi setelah menyentuh level tertinggi satu bulan di US$1,1721. Poundsterling naik 0,27% ke US$1,343, setelah pada Rabu menguat 0,77% dan sempat menyentuh US$1,348.
Yen Jepang melemah, dengan dolar naik 0,27% ke 159,02 yen setelah sebelumnya sempat turun di bawah 158 pada Rabu. Derek Halpenny, head of research global markets EMEA di MUFG, mengatakan penutupan Selat Hormuz membuat “seluruh gencatan senjata tetap rapuh.” Namun ia menambahkan, meski dolar telah memantul, pergerakan pasar secara umum masih terbatas, dengan pembicaraan di Pakistan yang tetap berjalan membantu menahan pembalikan penuh pergerakan besar hari Rabu.
Dari sisi data, rilis terbaru pada Kamis menunjukkan inflasi AS naik sesuai perkiraan pada Februari dan kemungkinan meningkat lagi pada Maret di tengah perang Iran—tren yang diperkirakan membuat The Fed enggan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,4% setelah kenaikan 0,3% pada Januari, menurut Bureau of Economic Analysis. Di Jepang, survei pemerintah menunjukkan kepercayaan konsumen memburuk pada Maret untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, menambah rangkaian data yang mengindikasikan potensi dampak ekonomi dari perang Timur Tengah—yang dapat mempersulit keputusan Bank of Japan soal kenaikan suku bunga. Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan suku bunga riil masih jelas negatif dan menjaga kondisi keuangan tetap akomodatif.
Dolar Australia naik 0,49% ke US$0,7078 dan dolar Selandia Baru naik 0,57% ke US$0,5855. Di aset kripto, bitcoin terakhir naik 0,79% ke US$71.942.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id