
Trending

usdjpy
Sumber: Newsmaker.id
Yen Jepang menguat tajam pada perdagangan Senin (7/9), mencapai level tertinggi dalam sekitar tujuh bulan terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY sempat turun hingga 154,05, level terendah sejak Februari, sebelum bergerak di sekitar 154,64 atau turun sekitar 1% pada hari ini. Penguatan tersebut mencerminkan perubahan pandangan investor terhadap yen setelah sebelumnya mata uang Jepang berada dalam tekanan panjang.
Sentimen yen mendapat dukungan dari meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan dapat mempercepat pengetatan kebijakan moneter. Pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan investor Jepang membawa kembali dana dari luar negeri, yang berpotensi meningkatkan permintaan terhadap yen. Selain itu, posisi spekulatif yang sebelumnya bertaruh pada pelemahan yen mulai menghadapi tekanan setelah USD/JPY menembus area 155.
Level 155 menjadi perhatian penting karena sebelumnya berulang kali menjadi area penahan penguatan yen setelah intervensi pasar oleh Tokyo dan Washington. Penembusan di bawah level tersebut dinilai sebagai sinyal teknikal bullish bagi yen dan membuka peluang penguatan lebih lanjut apabila momentum tetap terjaga.
Potensi pembalikan carry trade juga menjadi faktor penting. Selama ini, suku bunga rendah Jepang membuat yen banyak digunakan sebagai mata uang pendanaan untuk membeli aset dengan imbal hasil lebih tinggi. Namun, jika yen terus menguat dan suku bunga Jepang naik, strategi tersebut menjadi kurang menarik dan dapat mendorong investor menutup posisi, yang berpotensi mempercepat apresiasi yen.
Pelemahan dolar terhadap yen juga memberi tekanan terhadap greenback secara lebih luas. Euro menguat ke sekitar US$1,1624, sementara poundsterling naik ke sekitar US$1,3536. Fokus investor kini beralih ke data inflasi AS pada Jumat, setelah laporan Non-Farm Payrolls yang kuat membuat pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan ini sekitar 57%.
Analisa Newsmaker: arah USD/JPY dalam jangka pendek masih cenderung tertekan selama yen bertahan kuat di bawah level 155. Data CPI AS akan menjadi katalis utama berikutnya. Inflasi yang lebih panas dapat memperkuat peluang kenaikan bunga The Fed dan membantu dolar rebound, sementara CPI yang lebih lunak berpotensi memperpanjang pelemahan greenback. Namun, dengan BOJ dan ECB juga berada dalam jalur pengetatan, ruang penguatan dolar kemungkinan tetap lebih terbatas dibandingkan sebelumnya.
Sumber: Newsmaker.id