
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Nikkei 225 ditutup turun 1,7% ke level 65.269 pada perdagangan Selasa (08/09), sementara indeks Topix melemah lebih dalam sebesar 1,83% menjadi 4.050. Penurunan tersebut berakhir selama dua sesi berturut-turut setelah yen Jepang melanjutkan penguatan hingga mencapai level terkuat sejak Februari.
Penguatan yen menjadi tekanan utama bagi pasar saham Jepang, terutama perusahaan yang berorientasi ekspor. Yen yang lebih kuat dapat mengurangi nilai pendapatan luar negeri perusahaan ketika mengkonversikan kembali ke mata uang domestik, sekaligus membuat aset Jepang menjadi relatif lebih mahal bagi investor asing.
Pasar juga mulai melakukan positioning menjelang kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ). Ekspektasi tersebut diperkuat data perekonomian yang menunjukkan pertumbuhan upah Jepang pada Juli mencapai laju tercepat sejak 1997, sementara pertumbuhan PDB kuartal kedua direvisi lebih tinggi.
Di sisi lain, harga minyak yang masih tinggi akibat kembali memanasnya konflik AS–Iran turut meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati karena inflasi yang tinggi dapat memperkuat alasan BoJ untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter.
Saham teknologi memimpin pelemahan, dengan Kioxia Holdings turun 3,6%, Advantest melemah 2%, Taiyo Yuden turun 7,9%, Ibiden turun 6,3%, dan Fujikura kehilangan 3%. Pelemahan sektor teknologi memperbesar tekanan terhadap Nikkei sepanjang sesi.