
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melanjutkan kenaikan pada perdagangan Selasa (8/9), ketika konflik di Timur Tengah semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi. Brent crude naik lebih dari 2% dan menyentuh sekitar US$99 per barel, sementara West Texas Intermediate melonjak lebih dari 3% ke kisaran US$94,41 per barel. Kenaikan membawa harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa pekan.
Sentimen pasar semakin panas setelah Iran memperingatkan bahwa infrastruktur minyak dan gas di kawasan Teluk dapat menjadi sasaran balasan jika aset Tehran kembali diserang. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa serangan terhadap aset Iran dapat dibalas terhadap fasilitas energi lawan, meningkatkan risiko bahwa konflik meluas dari kapal tanker menuju fasilitas produksi dan distribusi energi.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian pasar. Iran berencana memperkenalkan zona maritim terbatas baru dan koridor pelayaran alternatif, yang berpotensi memperketat kontrol terhadap lalu lintas tanker. Arus minyak dari Timur Tengah saat ini telah turun signifikan dibandingkan sebelum konflik, meski sebagian pasokan masih dapat dialihkan melalui jalur alternatif.
Risiko pasokan semakin meningkat setelah fasilitas energi Arab Saudi kembali menjadi sasaran serangan. Serangan terhadap infrastruktur Saudi menambah kekhawatiran bahwa gangguan tidak lagi terbatas pada Selat Hormuz, tetapi dapat menyebar ke fasilitas produksi dan pengolahan minyak di kawasan. Kondisi tersebut mendorong premi geopolitik semakin besar.
Namun, kenaikan minyak masih tertahan oleh kemampuan produsen Teluk menggunakan jalur ekspor alternatif, bertambahnya produksi dari negara non-OPEC seperti Amerika Serikat, Kanada dan Guyana, serta lemahnya permintaan di China. Faktor-faktor tersebut menjadi alasan Brent belum menembus US$100 secara berkelanjutan meskipun gangguan pasokan meningkat.
Goldman Sachs juga menaikkan proyeksi Brent dan WTI untuk akhir 2026 serta 2027 karena memperkirakan gangguan pelayaran Timur Tengah dapat bertahan lebih lama. Sementara itu, sejumlah analis lain melihat Brent berpotensi rata-rata berada di sekitar US$100 pada kuartal keempat jika ketegangan tidak segera mereda.
Analisa Newsmaker: bias Brent masih cenderung bullish selama risiko serangan terhadap infrastruktur energi dan gangguan Hormuz tetap tinggi. Area US$100 menjadi level psikologis utama berikutnya. Penembusan konsisten di atas level tersebut dapat membuka ruang kenaikan lebih lanjut, sementara meredanya konflik atau peningkatan arus tanker berpotensi mengurangi premi geopolitik dan memicu koreksi. (arl)
Sumber: Newsmaker.id